Spirit  

Niat Yang Kuat dan Keheningan Batin

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam*)

Dalam dunia yang serba tinggi lintasan informasi, kita senantiasa dibombardir oleh berbagai macam hal. Keadaan ini akan berefek pada begitu banyaknya hal yang mesti dipikirkan. Semakin sering seseorang menerima informasi, maka semakin mudah baginya untuk sadar maupun tak sadar memikirkannya. Apalagi jika informasi tersebut adalah informasi yang dirasa penting. Maka kepala pun semakin pening, terasa berat, seakan mau pecah, dan hingga sakit kepala.

Setiap informasi yang masuk ke otak, akan kemudian dipersepsi kembali oleh diri kita. Dan ini membuat otak kita akan terus bekerja berat, baik disadari maupun tidak. Keheningan menjadi barang langka di zaman now ini. Tidak heran jika sebagian orang menghabiskan waktu liburnya di daerah yang menyejukkan dan menenangkan. Ada juga yang menghabiskan sebagian waktunya untuk mencari teman ngobrol yang bersifat santai. Semua itu hanya untuk melepaskan beban dan merasakan ketenangan diri.

Namun sesungguhnya keheningan dan ketenangan diri bukanlah barang mahal. Prinsip dasarnya sangat jelas bahwa keheningan dan ketenangan diri adalah hal yang kita rasakan pada diri kita sendiri, sehingga mengapa mesti mencarinya di luar diri? Mengapa mesti mencuri waktu untuk ngobrol santai atau berlibur hanya untuk merasakan ketenangan diri? Tentu saja bukan berarti bahwa saya melarang untuk ngobrol santai dan berlibur. Akan tetapi semua itu tidaklah mesti dilakukan hanya demi merasakan keheningan dan ketenangan diri.

Ketika kita berkonsentrasi, memperhatikan, belajar, shalat, atau berzikir dengan niat besar dan fokus penuh, otak di belakang dahi yang bertindak sebagai CEO mencegah otak kita menyimpang dari jalur aktivitas yang dipilih. Agar pikiran kita tidak terganggu, prefrontal korteks mengabaikan sinyal dari tubuh yang berhubungan dengan perasaan emosi dan pengindraan lingkungan. Prefrontal korteks kita  akan “menurunkan volume”, menahan daerah otak yang menangani informasi sensorik dan motorik. Ini juga menenangkan korteks motorik sehingga ketika kita memperhatikan atau fokus, kita cenderung menjadi sangat diam.

Dengan niat, kita mengaktifkan CEO otak (prefrontal korteks), dan karena fungsi motorik pada bagian otak melambat atau dimatikan; kita benar-benar pindah ke keadaan trance dan tubuh mengikuti dengan menjadi hening. Tidak ada lagi pikiran di pusat-pusat gerakan tubuh di korteks motorik. Ketika sirkuit sensorik mendingin, seolah-olah kita tidak lagi merasakan lingkungan atau tubuh, karena tidak ada pikiran yang diproses di area perasaan di korteks.

Jika kita benar-benar fokus, maka kita tidak lagi menyalakan sirkuit korteks visual, kita akan berhenti melihat dunia luar, dan pikiran kita akan berada di depan dan tengah dalam pikiran kita. Begitu juga ketika tidak lagi mengaktifkan jaring saraf di korteks pendengaran, kita tidak akan lagi menyadari suara, seperti kendaraan yang melewati rumah kita. Bahkan pusat emosi menjadi dingin di otak limbik. Akibatnya, apa yang kita pikirkan atau fokuskan akan menjadi lebih nyata bagi kita daripada dunia di luar diri. Karena jaringan saraf tersebut dimatikan oleh prefrontal korteks, kita tidak lagi memproses tingkat pikiran atau kesadaran apapun di bagian otak itu, dan oleh karena itu, kita tidak lagi sadar akan tubuh, lingkungan, dan bahkan waktu.

Prefrontal korteks kita juga menempatkan kendali di bagian lain dari otak, untuk menghambat pikiran mengembara ke ingatan dan asosiasi, pikiran lain, atau rangsangan eksternal yang tidak terkait dengan subjek yang difokuskan. Mengekang peran asosiatif lobus temporal dari hanyut ke gambar dan emosi yang tidak terkait dengan topik fokus.

Niat dan fokus yang kuat sehingga melahirkan keheningan ini juga bisa terjadi ketika kita benar-benar tenggelam dalam pekerjaan yang kita lakukan. Kita akan berada dalam keadaan “mengalir” yang hening. Seorang pelari yang juga berada di keadaan ini tidak lagi mendengar suara sorak penonton, dan mengabaikan apa yang dilihatnya kecuali hanya garis finish yang menjadi tujuannya. Dengan demikian, kita diciptakan untuk bisa sibuk dan memikirkan banyak hal, juga untuk bisa berada dalam keheningan dan ketenangan diri. Yang dibutuhkan hanyalah niat dan fokus yang kuat, dan biarkan CEO otak kita meredam semua stimulus, sehingga tidak ada lagi gangguan dari tubuh kita, lingkungan sekitar, dan waktu (kenangan-kenangan). Niat kita akhirnya menjadi nyata, jika kita benar-benar fokus.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *