Catatan Jagad N*)
Perhelatan Pilpres 2024 tinggal menghitung hari. Tensi politik memanas, mengemuka dengan berbagai dinamikanya. Perhelatan pilpres, tak sekedar hanya kontestasi politik saja, namun akan menjadi penentu nasib bangsa ini ke depan.
Rakyat sekarang disergap rasa gelisah, paska putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait batas usia calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) menunjukkan kemunduran demokrasi dan kemerosotan independensi hakim konstitusi. Putusan MK tersebut terkait batas usia capres-cawapres menjadi 40 tahun atau pernah berpengalaman sebagai kepala daerah.
Putusan MK, menandai mundurnya demokrasi yang kita perjuangkan selama ini dengan berdarah-darah pada reformasi 98. Memilih pemimpin tidak hanya sekedar mencoblos di bilik pemungutan suara tetapi harus dilihat dalam persepektif yang lain, bagaimana kriteria calon pemimpin itu sendiri.
Dalam memilih pemimpin nasional, janganlah memilih seseorang hanya sekadar popularitas dan pencitraan saja. Pemimpin dipilih harus jelas visinya, jelas rekam jejaknya, prestasinya. Pemimpin juga harus aspiratif, bersih dan bisa menjadi problem solver. Jangan memilih pemimpin yang lahir dari kepentingan-kepentingan tertentu.
Di tengah situasi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, yang kita perlukan adalah pemimpin yang berjiwa kenegarawanan. Seorang pemimpin bukan hanya sekadar politisi yang hanya memiliki pemikiran jangka pendek. Seorang pemimpin yang baik itu yang memiliki pemikiran jangka panjang, dan memikirkan the next generation. Salah memilih pemimpin akan berimplikasi pada kehancuran bangsa ini.
Untuk mengedukasi masyarakat agar memilih pemimpin, perlu adanya pendidikan politik, memberikan pengertian kepada rakyat untuk memilih pemimpin yang terbaik berdasarkan kriteria-kriteria yang tepat, yang memiliki keunggulan-keunggulan, yang memiliki kelebihan-kelebihan dan mampu membawa perubahan bagi keberlangsungan bangsa ini ke depan.
Jangan memilih pemimpin berdasarkan wani piro, tetapi benar-benar dari hati yang murni, memilih pemimpin yang terbaik untuk membawa bangsa ini hidup berkesejahteraan.
Pemilu itu tidak hanya sekedar memilih pemimpin, tapi sebenarnya pemilu adalah rakyat menentukan lima tahun masa depan bangsa lewat memilih pemimpin.
Kalau sungguh mau menata negeri ke depan, semua praktik pergantian kekuasaan berdasar kaidah demokrasi tidak boleh defisit substansi. Kriteria pokok pemimpin kita sanggup membangun bangsa sesuai mandat konstitusi.
Kepemimpinan bukanlah barang yang “sudah jadi”. Kepemimpinan bukan pula sesuatu yang “jatuh dari langit”. Kepemimpinan atau lebih tepatnya karakter seorang pemimpin bisa dan malahan harus dikembangkan dari hari ke hari! Karakter ini amat penting bagi seorang pemimpin. John C. Maxwell, ahli kepemimpin dunia, bahkan mengatakan “rumusan ampuh” demikian . “ karisma dapat membawa anda sampai ke puncak, namun hanya karakterlah yang memprtahankannya.” Itu artinya tanpa karakter yang baik, seorang pemimpin yang sudah sampai puncak sekalipun tidak akan bertahan lama. Sebab begitu ketahuan ada cacat dalam karakternya, maka ia akan segera kehilangan reputasinya!
Pemimpin harus pula rendah hati, tidak songong. Pemimpin rendah hati akan dicintai oleh pengikutnya. Contohnya, Gandhi di India. Pemimpin yang rendah hati tidak arogan dan tidak merasa selalu benar. Ia bersedia mendengarkan nasehat bahan kritik. Ia tidak sok tahu. Ia terus belajar karena sadar bahwa ilmu pengetahuan itu luas tak bertepi. Pemimpin yang rendah hati juga selalu memperlakukan orang lain dengan hormat. Terutama kepada mereka yang ada di level bawah. Ia tidak segan-segan menyapa duluan bawahannya. Pokoknya pemimpin yang memiliki kerendahan hati adalah pemimpin yang sangat manusiawi. Ia “nguwongke” orang lain.
Pilih Pemimpin Yang Benar Akan Menentukan Nasib Bangsa. Mari kita bijak dalam memilih pemimpin untuk negeri yang kita cintai ini.
*) Pekerja media, penikmat kopi pahit.












