Oleh : Syahril Syam *)
Sejak paruh kedua abad ke-19 telah dilakukan pemetaan terhadap otak manusia. Para ilmuwan saraf kala itu berhasrat untuk mengetahui area mana pada otak yang berfungsi ketika kita melakukan aktivitas keseharian. Sebagai contoh, saat kita menggerakkan jari. Pada bagian manakah area otak yang mengatur proses motorik yang menjadi aktif? Pemetaan ini dilakukan dengan menyentuhkan elektroda yang menghasilkan listrik statis pada otak hewan.
Sebagai contoh, jika area otak tersebut distimulus dengan elektroda, maka akan dilihat bagian tubuh mana yang akan menyentak. Kalau yang menyentak itu adalah jari kelingking pada tangan kiri, maka akan dicatat bahwa area otak tersebutlah yang meneruskan sinyal untuk membuat jari kelingking tangan kiri tersebut bergerak.
Namun, anehnya peta otak yang meneruskan sinyal gerakan pada tubuh antara hewan yang satu dengan hewan lainnya berbeda. Sebagai contoh, saat satu titik area otak korteks motorik distimulus dengan elektroda pada seekor monyet, ada monyet yang menggerakkan jari kelingking tangan kirinya, sementara monyet yang lain menggerakan semua jari. Bahkan, ada pula monyet yang menggerakkan seluruh tangannya. Padahal, bagian yang diberi stimulus sama. Setiap stimulus di titik area otak yang sama akan menyebabkan respon yang berbeda pada setiap monyet. Perbedaan itu setara dengan keunikan sidik jari pada manusia.
Peta otak setiap mamalia itu unik. Dan pada tahun 1912, dua ilmuwan saraf Inggris, T. Graham Brown dan Charles Sherrington, melakukan penelitian lebih lanjut tentang keunikan peta pergerakan otak pada sekelompok monyet. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui apakah keunikan peta pergerakan otak itu disebabkan karena analisis ilmuwan saraf sebelumnya yang tidak tepat atau disebabkan oleh sesuatu yang unik yang pernah dilakukan oleh monyet-monyet tersebut.
Hasil penelitian itu adalah perbedaan respons itu mencerminkan dari hal-hal unik yang pernah dilakukan oleh monyet-monyet tersebut. Peta gerakan otak ternyata bersifat individual. Saya tambahkan pula bahwa perbedaan unik terjadi bukan karena adanya setiap gerakan yang dilakukan begitu saja tetapi oleh adanya gerakan yang berulang atau gerakan tertentu yang biasa dilakukan. Alhasil, peta gerakan otak terjadi bukan hanya mencerminkan adanya gerakan pada bagian tubuh tetapi seberapa sering bagian tubuh tersebut digunakan.
Ini juga menunjukkan kepada kita tentang bagaimana bedanya peta pergerakan otak para pemain gitar dengan mereka yang tak tahu bermain gitar atau hanya belajar sebentar saja. Walaupun setiap manusia bisa sama-sama menggerakkan jari akan tetapi peta pergerakan otak pemain gitar yang ahli akan sangat berbeda dengan yang bukan pemain gitar.
Dengan kata lain, perubahan pada otak yang bersifat plastis ini akan terjadi jika ada perhatian yang serius dan upaya mental untuk melakukan suatu perubahan. Setiap orang memiliki potensi yang sama tetapi hanya mereka yang memiliki niat, keseriusan, upaya mental, dan keinginan untuk berubah serta mengambil tindakan-lah yang akan membuat dirinya berbeda dengan yang lain.
@pakarpemberdayaandiri






