Kebahagiaan Sejati: Berkesadarn di Tengah Kesenangan dan Kesulitan Hidup

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Fitrah manusia memang cenderung menghindari penderitaan dan mencari kebahagiaan. Itu adalah bagian alami dari kodrat manusia. Secara bawaan (fitrah), manusia memang mencari kenyamanan, keamanan, cinta, penerimaan, dan kenikmatan. Dan secara alami, ia juga menghindari rasa sakit, penderitaan, dan ancaman. Namun penting disadari bahwa itu adalah mekanisme pertahanan hidup yang Sang Maha Sempurna tanamkan agar manusia bertahan dan berkembang. Karena jika salah arah dan tidak dipandu oleh kesadaran diri, maka manusia akan menjadi budak kenikmatan (hedonisme), terobsesi pada kenyamanan dan kontrol, dan menolak realitas yang penuh ketidaksempurnaan.

Akibatnya, ketika manusia menghadapi penderitaan, ia mudah merasa hancur, putus asa, dan kehilangan makna karena ia tidak melihat nilai di balik rasa sakit. Ia menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang tidak semestinya terjadi dalam hidupnya. Sebaliknya, ketika sedang berada dalam kebahagiaan dan kelimpahan, ia mudah lupa diri – terlarut dalam euforia, menjadi sombong, dan lalai terhadap nilai-nilai spiritual serta makna kehidupan yang lebih dalam. Tanpa kesadaran yang menuntun, manusia hidup seperti daun tertiup angin: rapuh dalam derita, dan terbuai dalam senang.

Dalam psikologi eksistensial (Viktor Frankl, Rollo May), makna hidup sangat terkait erat dengan pemahaman akan diri sendiri dan tujuan eksistensial. Jika kita memahami siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan untuk apa kita hidup, maka hidup kita menjadi bermakna. Sebaliknya, jika seseorang kehilangan akar identitasnya, ia merasa kosong, hampa, dan kehilangan arah. Jadi, jika manusia melupakan atau mengingkari bahwa ia adalah citra Tuhan, maka ia kehilangan fondasi ontologis dari identitas dirinya dan ia menjadi seperti makhluk tanpa asal-usul dan tanpa tujuan luhur.

Penting untuk disadari bahwa manusia diciptakan bukan hanya untuk hidup dan berkembang, tetapi untuk mencerminkan sifat-sifat Sang Maha Sempurna. Secara sederhana, citra Tuhan (Imago Dei) berarti bahwa manusia diciptakan dengan kualitas-kualitas yang mencerminkan sifat-sifat Sang Maha Sempurna – bukan secara zat, tapi secara potensi spiritual dan moral. Citra Tuhan berarti manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk menampakkan sifat-sifat Ilahi, seperti kasih sayang (rahmah), keadilan (‘adl), hikmah (kebijaksanaan), sabar, pemaaf, dan cinta. Insan Kamil (Manusia Sempurna) adalah manusia yang berhasil mengaktualkan semua potensi tersebut, sehingga menjadi cermin Tuhan yang sempurna.

Maka, “citra Tuhan” adalah hakikat terdalam manusia. Ia bukan sekadar tubuh dan pikiran, tetapi jiwa yang mampu menyerap dan memantulkan Cahaya Ilahi. Manusia adalah ‘mikrokosmos’ yang mencerminkan seluruh spektrum wujud. Dengan kata lain, identitas terdalam manusia adalah potensi spiritual sebagai manifestasi Sang Maha Sempurna. Dengan demikian, kehilangan kesadaran akan citra Ilahi dalam diri berarti kehilangan arah eksistensial. Dan kehilangan arah eksistensial adalah definisi klasik dari kekosongan makna.

Ketika seseorang tidak lagi memandang dirinya sebagai citra Tuhan, maka orientasi hidupnya pun bergeser. Ia mulai mencari identitas dari luar dirinya: dari jabatan, penampilan fisik, status sosial, atau validasi orang lain. Meskipun tampak bahagia di permukaan, ia justru merasa hampa di dalam; hidup terasa kosong karena apa yang dikejar tidak memberi makna yang sejati. Kondisi ini seringkali mengarah pada perasaan nihilisme, yakni keyakinan bahwa hidup tidak punya tujuan yang mendalam. Lebih jauh lagi, ia bisa mengalami keterasingan dari jiwanya sendiri, kehilangan koneksi dengan sisi terdalam dari keberadaannya, yaitu fitrah spiritual yang sebenarnya rindu pada kebenaran dan Sang Maha Sempurna. Inilah bentuk keterputusan eksistensial yang menyebabkan kegelisahan batin meski segala kesuksesan dunia tampak telah digenggam.

Hidup manusia pasti berisi kesulitan, duka, kehilangan, dan penderitaan. Maka muncul pertanyaan: “Kalau saya adalah ‘citra Tuhan’, kenapa saya mengalami rasa sakit, kesulitan, dan penderitaan?” Jawabannya tidak untuk meniadakan penderitaan, tetapi mengubah cara memaknainya. Menjadi citra Tuhan bukan berarti hidup tanpa luka. Tapi berarti setiap luka adalah peluang untuk memantulkan sifat Sang Maha Sempurna. Derita adalah ladang aktualisasi sifat-sifat Sang Maha Sempurna dalam diri: kesabaran, kasih, pengampunan, tawakkal, cinta, dan kebijaksanaan. Saat manusia hidup selaras dengan citra Ilahi dalam dirinya, maka jiwanya tenang dan bahagia, bahkan di tengah kesulitan.

Jika penderitaan bisa menjadi ladang aktualisasi citra Tuhan, lalu bagaimana dengan kesenangan? Apakah ia juga spiritual? Kesenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan duniawi bukan musuh spiritualitas – selama dipahami dan dijalani dengan kesadaran Ilahiyah. “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan itu” (QS 102:8). Jadi, sama seperti penderitaan, kesenangan adalah cermin. Ketika manusia sadar bahwa ia adalah citra Tuhan, maka kesenangan pun menjadi ruang aktualisasi sifat-sifat Ilahi. Kesenangan bukan tujuan, tapi sarana untuk memperdalam syukur, kasih sayang antar manusia, cinta tanpa pamrih, rendah hati, kedermawanan, dan tanggung jawab sosial.

Kebahagiaan sejati bukan terletak pada “apa yang terjadi di luar”, tetapi pada “kesadaran batin yang stabil, meskipun dunia berubah-ubah”. Kebahagiaan sejati adalah keadaan jiwa yang berkesadaran – sadar akan Sang Maha Sempurna, asal-usulnya, dan tujuan hidupnya – di tengah segala kondisi duniawi. Kebahagiaan sejati adalah kesadaran yang hadir, utuh, dan terhubung dengan Sang Maha Sempurna di tengah dinamika dunia: baik dalam kesulitan maupun kesenangan. Kebahagiaan sejati bukan menghindari susah dan senang, tetapi menghidupi keduanya dengan kesadaran spiritual. Baik kesedihan maupun kesenangan adalah dua sisi cermin. Jika kita sadar sebagai citra Tuhan, maka kita bisa memantulkan cahaya-Nya dalam keduanya: dengan sabar saat sulit, dan syukur saat senang.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *