Oleh: Syahril Syam *)
Saat kita pertama kali jatuh cinta – perasaan itu biasanya sangat intens dan penuh semangat, bukan? Cinta romantis seperti ini adalah fokus yang tajam pada satu orang spesifik, membuat kita selalu ingin dekat dan memikirkan dia terus-menerus.
Di balik perasaan ini, otak kita bekerja dengan aktif melalui sistem yang disebut sistem dopaminergik, terutama di bagian seperti Ventral Tegmental Area dan nucleus caudatus. Bagian otak ini bertanggung jawab untuk memberikan rasa senang, motivasi tinggi, energi meluap, dan membuat perhatian kita terkonsentrasi penuh pada pasangan. Itulah sebabnya, saat sedang jatuh cinta, kita bisa merasa euforia dan tak bisa berhenti memikirkan si dia.
Namun, cinta itu tak selalu bertahan dalam bentuk yang sama. Setelah waktu berjalan, cinta romantis yang penuh gairah ini biasanya berubah menjadi bentuk lain yang lebih tenang tapi lebih dalam, yaitu keterikatan jangka panjang atau long-term attachment.
Bentuk cinta ini sangat penting untuk menjaga hubungan tetap stabil, terutama saat bersama-sama pasangan membesarkan anak dan membangun kehidupan bersama. Di sini, peran otak bergeser ke neurokimia lain yaitu oksitosin dan vasopresin, hormon yang membantu menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan keterikatan emosional yang kuat. Attachment inilah yang membuat kita merasa bahwa pasangan adalah tempat paling aman untuk kembali, yang menghadirkan kehangatan dan kedamaian dalam hubungan sehari-hari. Jadi, meskipun cinta romantis dan keterikatan jangka panjang itu berbeda, keduanya saling melengkapi untuk menciptakan hubungan yang sehat dan bertahan lama.
Helen Fisher dan rekan-rekannya, melalui penelitian neurobiologi cinta, menunjukkan bahwa otak manusia ternyata memiliki sistem biologis yang berbeda untuk mendukung tujuan cinta yang juga berbeda. Secara ilmiah, cinta bukan hanya satu pengalaman emosional tunggal, melainkan terdiri dari beberapa komponen dengan fungsi yang khas.
Ketika kita mengalami cinta romantis, yaitu perasaan jatuh cinta yang intens dan penuh gairah – otak mengaktifkan sistem yang mendorong ketertarikan mendalam terhadap satu individu, dengan tujuan utama untuk menarik dan memilih pasangan. Sistem ini banyak melibatkan dopamin, yang menghasilkan rasa senang, antusiasme, dan fokus yang kuat terhadap pasangan.
Namun, ketika hubungan berlanjut dan berkembang ke arah yang lebih stabil, otak mulai melibatkan sistem lain yang berbeda, yaitu sistem keterikatan atau attachment. Sistem ini didukung oleh hormon seperti oksitosin dan vasopresin, yang berperan dalam membangun rasa aman, kenyamanan emosional, dan keinginan untuk tetap bersama pasangan dalam jangka panjang. Dengan kata lain, otak manusia dirancang untuk tidak hanya mencari pasangan, tetapi juga mempertahankannya – dua proses cinta yang berbeda namun saling melengkapi demi keberlangsungan hubungan dan kehidupan bersama.
Dalam hubungan manusia, cinta romantis dan keterikatan jangka panjang memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi. Secara ilmiah, cinta romantis biasanya muncul di awal hubungan. Ia ditandai dengan gairah yang tinggi, ketertarikan yang intens, dan fokus emosional yang kuat terhadap satu orang.
Namun, perasaan ini cenderung bersifat sementara – berlangsung selama beberapa bulan hingga beberapa tahun – karena otak lambat laun beradaptasi terhadap rangsangan yang sama. Meski demikian, cinta romantis sangat penting karena berfungsi sebagai dorongan biologis untuk memilih pasangan, atau yang dikenal dalam ilmu evolusi sebagai mate selection.
Sementara itu, keterikatan jangka panjang berkembang lebih perlahan seiring waktu dan pengalaman bersama, namun justru lebih stabil dan bertahan lama. Sistem ini ditopang oleh hormon yang mendorong rasa aman, kepercayaan, dan kedekatan emosional. Fungsi utamanya adalah untuk mempertahankan hubungan dalam jangka panjang (mate retention) dan menciptakan ikatan yang mendukung pengasuhan anak (child-rearing). Dengan kata lain, cinta romantis membantu kita menemukan pasangan, sedangkan keterikatan membantu kita mempertahankan hubungan tersebut dan membangun keluarga yang stabil.
Dalam kehidupan nyata, cinta romantis dan keterikatan jangka panjang tidak bekerja secara bergantian seperti tombol mati dan hidup. Keduanya bisa saling tumpang tindih dan hadir bersamaan dalam suatu hubungan yang sehat. Banyak pasangan mengalaminya sebagai kilatan-kilatan perasaan cinta romantis – momen penuh gairah dan keintiman emosional – yang muncul di tengah keseharian hubungan yang stabil dan nyaman. Ini bisa disebut sebagai reward hits, yaitu sensasi menyenangkan yang kadang muncul kembali dan memperbarui semangat dalam hubungan.
Secara ilmiah dan psikologis, hubungan yang ideal adalah hubungan yang mampu memadukan dua sistem ini: semangat dan energi dari cinta romantis, serta kedalaman dan kestabilan dari keterikatan emosional. Perpaduan inilah yang membuat hubungan tetap hidup dan dinamis, tetapi juga aman dan bertahan lama. Dengan kata lain, cinta yang langgeng bukan hanya soal stabilitas, tapi juga kemampuan untuk terus menyalakan kembali api ketertarikan di dalam hubungan yang telah berjalan jauh.
Cinta romantis mendorong kita untuk “memburu” dan “mempertahankan” pasangan di fase awal. Namun, seiring waktu, cinta romantis saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan. Di sinilah peran keterikatan (attachment) menjadi krusial. Sistem keterikatan bekerja lebih tenang tapi dalam. Ia membuat kita mampu bertahan menghadapi konflik, saling memaafkan, membina kepercayaan, dan bekerjasama dalam membangun kehidupan bersama. Kalau cinta romantis adalah api yang menyala cepat, keterikatan adalah bara yang hangat dan bertahan lama. Kedua sistem ini saling melengkapi – yang satu menghubungkan, yang lain mempertahankan.
@pakarpemberdayaandiri






