Oleh: Syahril Syam *)
Kecemasan adalah reaksi tubuh terhadap ancaman yang dirasakan, walaupun ancaman itu mungkin tidak nyata atau tidak langsung. Faith G. Harper, penulis buku “Unfuck Your Brain”, menjelaskan kecemasan sebagai hasil dari otak yang terlalu fokus pada kemungkinan bahaya, yang bisa bersifat fisik atau emosional, yang seringkali terkait dengan pengalaman masa lalu (seperti trauma) atau ketakutan akan hal-hal yang belum terjadi.
Harper menggambarkan kecemasan sebagai bagian dari sistem peringatan tubuh yang berfungsi untuk melindungi kita dari bahaya. Namun, ketika otak merasa terancam – baik itu karena pengalaman masa lalu atau karena stres sehari-hari – sistem ini bisa menjadi terlalu sensitif. Ini mengakibatkan kecemasan yang berlebihan dan reaksi fisik yang tidak selalu relevan dengan situasi saat ini.
Menarik untuk dicermati karena Harper memberi judul bukunya dengan menggunakan kata “Unfuck Your Brain”, yang bisa diartikan sebagai “Perbaiki Otakmu” atau “Benahi Otakmu”, dengan kata “unfuck” yang menggambarkan suatu proses untuk memperbaiki atau mengatasi kondisi yang kacau, rusak, atau terganggu.
Penggunaan kata “unfuck” oleh Harper dimaksudkan agar pembaca merasa nyaman dan tidak takut untuk menghadapi masalah kesehatan mental mereka. “Unfuck” di sini berarti melakukan tindakan untuk membersihkan atau memperbaiki kondisi mental yang kacau, memulihkan keseimbangan otak, dan membantu mengatasi kecemasan, depresi, atau trauma yang tidak diselesaikan. Harper menggunakan kata tersebut dengan gaya yang kasual dan langsung karena ingin mengajak pembaca untuk tidak hanya menerima kondisi otak mereka sebagaimana adanya, tetapi juga aktif memperbaiki dan merawatnya agar bisa hidup lebih sehat secara mental dan emosional.
Apa yang terjadi di otak saat trauma atau stres? Harper menyebut amygdala sebagai alarm darurat otak. Jika seseorang pernah mengalami trauma, alarm ini bisa menjadi terlalu sensitif. Ini seperti alarm kebakaran di rumah, yang berbunyi setiap kali seseorang memasak meskipun tidak ada asap. Itulah sebabnya, seseorang yang pernah mengalami kecelakaan mobil, maka mendengar klakson bisa langsung membuatnya cemas, meskipun tidak sedang dalam bahaya. Jadi amygdala adalah Si Alarm Bahaya yang overaktif.
Selain itu, trauma juga berkaitan dengan hipokampus, Si Ahli Penyimpan Memori yang kebingungan. Harper menjelaskan bahwa hipokampus adalah bagian otak yang bertugas menyimpan dan mengelola memori, termasuk memori traumatis.
Trauma dapat membuat hipokampus, bagian otak yang bertugas menyimpan memori, menjadi kacau. Ini seperti menyimpan dokumen penting, tetapi semuanya tercecer di atas meja, bukan di dalam folder. Trauma membuat otak tidak bisa “mengarsipkan” pengalaman buruk dengan benar. tulah sebabnya seseorang cenderung tiba-tiba mengingat peristiwa traumatis secara mendetail (flashback), seolah-olah itu baru saja terjadi. Kenangan buruk yang seharusnya disimpan di masa lalu malah terus muncul seolah-olah itu sedang terjadi sekarang.
Saat seseorang mengalami stres kronis, maka akan membuat prefrontal cortex, bagian otak yang berpikir logis, menjadi kurang aktif. Prefrontal Cortex, Si Ahli Logika menjadi lumpuh. Ini seperti bos kantor yang biasanya mengatur semuanya tiba-tiba berhenti bekerja, sehingga semua karyawan (bagian lain dari otak) panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Itulah sebabnya, saat seseorang terlalu stres, maka cenderung merasa sulit mengambil keputusan sederhana, seperti memilih makanan untuk makan siang.
Harper membuat kita sadar bahwa reaksi otak terhadap trauma adalah normal, bahkan jika itu terasa aneh atau tidak nyaman. Jika seseorang sering merasa cemas tanpa alasan jelas, maka itu bukan karena kita menjadi “aneh”, tetapi karena otak kita sedang berusaha melindungi diri kita, walaupun caranya tidak selalu efektif.
Jadi ketika trauma atau stres terjadi, amygdala mengirimkan sinyal bahaya, hipokampus gagal menyimpan kenangan dengan benar, dan sistem limbik secara keseluruhan menjadi tidak seimbang. Ini membuat otak terus-menerus berada dalam mode siaga. Harper mengajarkan teknik grounding sebagai salah satu cara yang efektif untuk membantu mengelola kecemasan, stres, dan reaksi tubuh yang dipicu oleh trauma. Grounding adalah cara untuk “menanamkan” perhatian kita pada saat ini, menggunakan panca indra atau fisik tubuh, agar otak kita tidak melompat ke masa lalu (seperti kenangan traumatis) atau terjebak dalam kecemasan tentang masa depan.
Ketika merasa cemas, panik, atau seperti kehilangan kendali, latihan grounding 5-4-3-2-1 bisa membantu. Lihatlah sekeliling dan sebutkan lima benda yang dilihat. Tidak perlu sesuatu yang istimewa – cari apa saja yang ada di sekitar. Contoh: “Saya melihat meja, buku, jendela, gelas, dan lampu”. Kemudian gunakan tangan untuk menyentuh empat benda yang ada di sekitar. Rasakan tekstur, suhu, atau permukaannya. Contoh: “Saya menyentuh bantal yang lembut, lantai yang dingin, pakaian saya, dan dinding yang keras.” Lalu berhenti sejenak dan dengarkan. Sebutkan tiga suara yang bisa didengar, baik suara dari lingkungan atau dari tubuh sendiri. Contoh: “Saya mendengar suara kipas angin, kendaraan di luar, dan detak jantung saya.” Kemudian fokus pada indra penciuman. Sebutkan dua aroma yang bisa dicium sekarang. Jika sulit menemukan aroma, bayangkan aroma favorit. Contoh: “Saya mencium aroma teh yang saya minum dan parfum saya.” Dan setelah itu, perhatikan bagaimana tubuh sendiri terasa. Fokus pada satu hal, seperti tekanan kursi di punggung atau aliran nafas. Contoh: “Saya merasakan kursi menopang tubuh saya atau udara dingin di kulit saya.” Cobalah teknik ini kapan pun dirasa perlu.
@pakarpemberdayaandiri






