Spirit  

Stres Kronis dan Kerusakan Otak

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Stres itu baik karena saat kita stres, tubuh kita menghasilkan hormon stres, seperti kortisol, untuk membantu kita menghadapi situasi mengancam. Dalam jangka pendek, hormon ini berguna, misalnya jika kita perlu berlari saat menghadapi bahaya, kortisol memberi kita energi tambahan agar bisa berlari kencang. Tapi, kalau seseorang terus-menerus stres – karena pekerjaan, masalah pribadi, atau kekhawatiran jangka panjang – hormon stres ini akan terus diproduksi dan mulai merusak otak. Stres jangka panjang yang berulang atau terus-menerus disebut stres kronis yang berkelanjutan.

Stres kronis inilah yang cenderung merusak otak. Seorang neuroendokrinolog dan peneliti terkemuka yang dikenal karena kontribusinya yang mendalam dalam memahami hubungan antara stres dan otak, Bruce McEwen, memperkenalkan kepada kita konsep “Allostatic Load”. Allostatic Load adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan beban stres yang menumpuk di tubuh dan otak akibat paparan stres yang berulang atau berkepanjangan. Bayangkan stres seperti beban yang dibawa di punggung. Jika seseorang hanya membawa beban itu sebentar, mungkin ia bisa mengatasinya. Tapi kalau beban itu terus-menerus ditambahkan dan tidak pernah dilepaskan, lama-kelamaan tubuhnya menjadi lelah dan rusak.

Allostatic Load adalah kerusakan yang terjadi pada tubuh dan otak akibat stres yang tidak berhenti. Semakin lama seseorang berada di bawah tekanan, semakin besar beban yang ia bawa, dan hal ini bisa menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental. Dengan kata lain, ia terlalu sering menumpuk berbagai perasaan destruktifnya. Ia mengira dirinya baik-baik saja karena bisa melupakan suatu masalah, namun tanpa sadar ia menyimpan dan menumpuk berbagai perasaan destruktif. Yang terjadi akhirnya adalah sistem kekebalan tubuh melemah sehingga jadi lebih mudah sakit, bisa meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit jantung, mengalami sulit tidur, dan menyebabkan gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan kelelahan emosional.

Bagian pada otak yang dipengaruhi saat seseorang mengalami stres kronis adalah hippocampus, bagian otak yang berfungsi untuk memori dan pengaturan emosi. Stres kronis bisa membuat hippocampus mengecil, sehingga seseorang jadi lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan susah mengontrol emosi. Ketika seseorang merasa sering lupa atau susah mengingat sesuatu saat sedang stres tinggi, itu bisa jadi efek stres pada hippocampus.

Bagian lainnya yaitu korteks prefrontal yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan dan mengendalikan diri. Stres kronis bisa membuat seseorang lebih mudah panik, sulit berpikir jernih, atau membuat keputusan yang buruk. Efeknya bisa membuat seseorang cenderung impulsif, misalnya makan makanan yang tidak sehat, sulit mengendalikan emosi, atau mengambil keputusan yang tidak bijak. Ada juga amigdala yang merupakan pusat pengatur emosi kita, terutama terkait rasa takut dan cemas.

Stres kronis membuat amigdala menjadi lebih aktif, yang bisa membuat seseorang merasa cemas berlebihan atau takut secara terus-menerus; lebih mudah khawatir tentang hal-hal kecil atau cemas sepanjang waktu meskipun tidak ada bahaya nyata.

Meskipun stres kronis bisa merusak otak, otak kita juga punya kemampuan untuk pulih dan beradaptasi. Ini disebut neuroplastisitas, dimana otak bisa menciptakan sambungan baru dan memperbaiki diri jika diberi kesempatan. Salah satu bentuknya berupa dukungan sosial. Hubungan yang sehat dengan orang-orang di sekitar kita sangat penting. Studi McEwen menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat membantu menurunkan hormon stres dan menjaga kesehatan otak. Cobalah lebih sering berhubungan dengan teman atau keluarga. Tidak harus selalu bertemu secara langsung, bahkan menelepon atau mengirim pesan bisa memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan untuk meredakan stres.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *