Spirit  

Memilih Tujuan Atau Efek?

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam

Semua manusia memiliki motivasi alamiah yang datang dari kecenderungan jasmaniahnya. Ketika rasa lapar melanda, maka semua manusia pasti terdorong untuk mencari makan. Begitu pula ketika rasa haus, seks, dan hasrat terhadap berbagai keinginan muncul, maka akan mendorong seseorang untuk segera memenuhinya. Jika diperhatikan dengan jeluk, maka kebanyakan orang mengejar gelar sarjana dan bekerja, ternyata hanya dimotivasi oleh kecenderungan jasmaniah ini.

Apapun tujuan yang seseorang sampaikan ketika ditanyakan untuk bersekolah dan bekerja, ujungnya cenderung mengarah pada pemenuhan berbagai hasrat jasmaniah ini, yaitu agar bisa makan, minum, seks, dan memiliki berbagai keinginan. Motivasinya untuk melakukan belajar dan bekerja didorong oleh hasrat tubuhnya dan tujuan akhirnya pun hanya untuk pemenuhan hasrat tubuhnya. Maka lingkaran motivasi dan tujuan ini hanya di seputar hasrat jasmaniah, maka wajar jika akhirnya seseorang cenderung menjadi egois, tamak, dan rakus. Ia akan cenderung menzalimi dirinya sendiri dan orang lain demi pemuasan hasrat tubuhnya.

Karena berbagai kecenderungan jasmaniah ini tidak dilandasi nilai karena memang tubuh manusia tidak mengenal nilai, maka demi memenuhi berbagai hasrat tubuh tersebut cenderung menghalalkan segala cara; cenderung melakukan kerusakan di muka bumi; cenderung melakukan penumpahan darah. Karena memang dorongan-dorongan ini tidak mengenal nilai baik atau buruk; benar atau salah.

Agar berbagai hasrat tubuh tersebut menjadi bernilai benar dan baik, maka mesti mengacu pada Sang Maha Sempurna. Dan apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS 62:10). Ternyata mencari karunia-Nya adalah perintah setelah mendirikan shalat. Karena Sang Maha Sempurna yang memberi perintah, maka nilai benar dan baiknya berdasarkan pada menjalankan amanah yang diberikan (berupa perintah mencari karunia-Nya). Dan karena itu pula, tujuan pelaksanaan perintah ini (belajar dan bekerja) adalah demi agar bisa melaksanakan amanah ini dengan baik sehingga bisa memperoleh Ridha Sang Maha Sempurna.

Berbeda dengan motivasi dan tujuan dari kecenderungan jasmaniah, kecenderungan Ilahiah ini dimotivasi atas keinginan menjalakan perintah-Nya, yang tujuannya juga kembali kepada-Nya (mengharap Ridha Sang Maha Sempurna). Dan kalau ini yang dijadikan motivasi dan tujuan, maka sesungguhnya berbagai keuntungan dan manfaat yang diperoleh dari bekerja – berupa pemenuhan makan, minum, seks, dan memenuhi kebutuhan hidup – hanya efek positif yang diperoleh dari menjalankan amanah-Nya.

Dan karena nilai benar dan baiknya berdasarkan perintah-Nya, maka tentu saja pemenuhan berbagai hasrat tubuh akan bernilai benar dan baik ketika dipenuhi sesuatu aturan Sang Maha Sempurna. Dengan demikian Sang Maha Sempurna sesungguhnya merupakan tujuan dari berbagai aktivitas kehidupan – yang dilandaskan pada tanggung jawab menjalankan amanah-Nya – sedangkan terpenuhinya hasrat tubuh hanyalah efek dari menjalankan amanah; dan bukan tujuan kehidupan yang sesungguhnya. Pilihan ada di hati kita masing-masing.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *