Oleh Syahril Syam *)
Secara umum, setiap manusia memiliki empat gelombang otak yang berkerja secara simultan. Dan karena setiap gelombang otak ini memiliki karakteristik yang berbeda bagi diri kita, maka ketika yang salah satunya dominan, maka akan menentukan kondisi kesadaran diri kita. Ketika gelombang otak beta yang dominan, maka kesadaran kita berada pada kondisi sadar normal dan terjadi hubungan dan interaksi dengan dunia eksternal atau dunia di luar diri kita. Kita bisa secara sadar menerima berbagai input (informasi) dari dunia eksternal melalui panca indra kita. Sekaligus kita juga bisa memberikan informasi (ide) kepada dunia eksternal.
Sedangkan gelombang otak alpha adalah penghubung antara kesadaran kita akan dunia eksternal dengan dunia internal kita. Gelombang alpha merupakan jembatan antara kondisi beta (kesadaran aktif) dan theta (kesadaran lebih dalam). Setelah gelombang otak alpha, ada gelombang theta yang sering dihasilkan dalam keadaan relaksasi mendalam. Theta dianggap sebagai jembatan antara pikiran sadar dan bawah sadar. Ketika otak dalam mode theta, kita lebih mudah mengakses informasi yang tersimpan di bawah sadar, seperti memori dan intuisi.
Kemudian dalam kondisi dominasi delta, kita dapat mengakses lapisan terdalam dari alam bawah sadar, yang berisi informasi tersembunyi atau pengalaman yang sulit dijangkau dalam kondisi sadar. Delta dianggap sebagai kunci untuk menghubungkan diri dengan pengalaman-pengalaman yang bersifat mendalam dan transformatif. Delta memungkinkan kita memasuki keadaan dimana batas antara fisik dan non-fisik mulai memudar, memberi akses pada pengalaman-pengalaman yang sulit dijelaskan secara rasional. Juga merupakan pintu gerbang menuju kesadaran yang sangat dalam, yang memungkinkan koneksi dengan hal-hal di luar pengalaman duniawi sehari-hari. Jadi, gelombang otak beta, alpha, theta, dan delta, menjadi bukti bahwa manusia adalah saluran (penghubung) bagi turunnya informasi dari alam yang lebih tinggi (gaib) menuju ke alam yang lebih rendah (duniawi).
Sejalan dengan penelitian neurosains di atas, terdapat ayat: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bahwa Tuhan itu nyata (QS 41:53). Ufuk (jamaknya aafak) mengacu pada makrokosmos sedangkan “diri mereka” mengacu pada mikrokosmos. Jadi ayat ini mengisyaratkan bahwa penanda atas Sang Maha Sempurna adalah alam dan diri manusia sendiri. Kosmos dan diri kita adalah dua realitas yang di dalamnya manifestasi Sang Maha Sempurna dapat disaksikan. Dengan kata lain, seluruh tingkatan kosmos (lahir maupun batin) ada pada diri manusia.
Pada dasarnya, manusia diciptakan untuk menjadi saluran rahmat (manifestasi) mulai dari alam yang lebih tinggi (alam gaib) hingga ke alam yang paling rendah (alam materi/duniawi). Namun karena tidak semua manusia mengaktualkan potensi-potensi Ilahi pada dirinya, maka hanya pada manusia sempurna-lah (Insan Kamil) hal ini bisa terjadi, yaitu manusia yang telah mengaktualkan seluruh Nama-nama dan Sifat-sifat Sang Maha Sempurna. Hanya manusia sempurna yang memiliki keidentikkan dengan Sang Maha Sempurna. Keidentikkan tersebut adalah bahwa dirinya hadir dalam seluruh tingkatan-tingkatan manifestasi, mulai dari alam materi hingga alam non-materi, dari nasut hingga lahut.
Dalam kitab Insan Kamil wa Qutub, Syekh Akbar menjelaskan: “Sebagaimana Insan Kamil diciptakan sebagai bentuk Sang Maha Sempurna maka ia sendiri adalah hak yang dengan wasilahnya (perantaranya) Sang Maha Sempurna menciptakan alam; yakni suatu ciptaan yang karenanya, alam diciptakan. Sebab, manusia adalah paling sempurnanya entitas-entitas, ia tujuan eksistensi. Karena ia tujuan eksistensi, maka (keberadaannya) terlaksana sebelum eksistensi (alam). Oleh karena itu, selain karenanya tidak tercipta suatu ciptaan sebelumnya. Jika ia tidak ada maka penciptaan tidak mengambil bentuknya.” Dan karena wujudnya yang sempurna, maka menjelmalah rahasia-rahasia Sang Maha Sempurna dalam berbagai manifestasi. Seluruh alam dengan seluruh atom-atomnya beserta seluruh rahasia-rahasia-Nya tegak dengan hakikat Insan Kamil. Ia penjaga perbendaharaan-perbendaharaan dan rahasia-rahasia Sang Maha Sempurna.
Itulah sebabnya, Insan Kamil adalah penghubung antara Sang Maha Sempurna dan makhluk-Nya. Dan karena Nabi Muhammad SAW adalah Insan Kamil, maka wajarlah jika melaluinya, rahmat Sang Maha Sempurna tercurah kepada seluruh alam semesta. Ia mempunyai sisi yang menghadap ke alam Ilahiyah serta menerima emanasi dan sisi lainnya mengarah alam ciptaan sebagai kanal yang mengalirkan emanasi rahmat dari Sang Maha Sempurna. Sehingga dengan inilah Rasulullah SAW merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta.
Syekh Kabir (murid langsung Ibnu Arabi, yaitu Qunawi) menjelaskan bahwa Insan Kamil adalah suatu hakikat barzakh (penghubung) antara wujub dan imkan. Ia adalah penghubung antara Hak SWT dan makhluk-Nya. Dan sekiranya tidak ada barzakhiyyah ini yang tidak berbeda dua sisi (wujub dan imkan) maka tidak satupun maujud dari alam yang menerima iluminasi Ilahi. Sebab, tidak ada kesesuaian antara wujub dan imkan serta tidak ada penghubung keduanya yang menjadi sebab tersampaikannya emanasi Ilahi kepada mereka.
@pakarpemberdayaandiri






