Oleh: Syahril Syam *)
Jika kita mengganggu seekor ayam betina, maka ia cenderung akan lari menghindar. Namun, ayam betina yang sama, jika ia telah memiliki beberapa ekor anak, dan kemudian kita mengganggu salah satu anaknya, ayam betina tersebut tak segan-segan untuk menyerang kita. Ayam betina itu kini telah menggunakan daya amarahnya untuk membela keluarganya. Ayam betina itu tak ingin anak-anaknya diganggu dan ditindas, sehingga menggunakan daya amarah untuk melindungi anak-anaknya.
Seperti halnya hewan, manusia pun cenderung menggunakan daya amarah untuk melindungi dirinya dan kepentingannya. Hanya saja yang mesti disadari adalah bahwa pada diri kita ada dua kecenderungan, yang berarti ada dua jenis kepentingan. Kecenderungan pertama pada manusia adalah kecenderungan jasmaniah berupa makan, minum, seks, dan segala keinginan serta kepemilikan. Pada konteks ini, manusia tidak berbeda dengan hewan dalam menggunakan daya amarahnya, yaitu akan marah ketika segala yang berkaitan dengan kecenderungan jasmaniah diganggu sama orang lain. Marah ketika makan, minum, berbagai keinginan, dan kepemilikan diganggu oleh orang lain.
Karena kecenderungan jasmaniah bersifat egois (hanya untuk diri dan kepentingan diri sendiri), maka yang seringkali terjadi pada seseorang adalah cenderung berada pada dua sisi ekstrem dari daya amarah ketika berkaitan dengan kepentingan egois ini. Ketika daya amarahnya kurang (kurang berani) dan tidak mampu melindungi berbagai kepentingan dan kepemilikannya, maka merasa ditindas. Namun ketika berada dalam posisi menguasai orang lain, maka cenderung menggunakan daya amarahnya secara berlebihan, demi untuk memuaskan daya amarah, yaitu perasaan senang karena berhasil menguasai orang lain. Yang terjadi kemudian adalah cenderung mengarah pada penindasan. Marah dan sakit hati ketika ditindas, namun justru menindas ketika memiliki kekuatan.
Daya amarah sejatinya adalah untuk perlindungan diri dari ketertindasan. Dan lawannya adalah menggunakan daya amarah untuk menguasai dan menindas orang lain. Oleh sebab itu, selain kecenderungan jasmaniah, manusia juga memiliki kecenderungan ruhaniah. Kecenderungan yang berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Daya amarah yang berada pada konteks ini akan bersifat moderat (pemberani), yaitu tidak ingin ditindas dan juga tidak ingin menindas, serta berani dalam membela yang tertindas.
Segalanya dinilai berdasarkan nilai kemanusiaan dan keadilan, dan bukan berdasarkan kepentingan dan kepemilikan diri dan kelompok. Daya amarah ketika bergabung dengan kecenderungan ruhaniah akan menempatkan diri kita untuk tidak berada pada dua sisi ekstrem dari daya amarah (takut/ditindas atau membabi buta/menindas). Kemarahannya adalah karena adanya penindasan akibat dilanggarnya nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Dan di saat yang sama, pelampiasan kemarahannya (kepada para penindas) juga tidak dalam bentuk membabi buta. Semuanya hanya dalam koridor membela diri dan masyarakat dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Dan bukannya menjadi tertindas atau penindas.
@pakarpemberdayaandiri






