Spirit  

Daya Amarah, Kemerdekaan dan Bullying

Syahril Syam

Oleh Syahril Syam *)

Baru-baru ini viral sebuah kasus bunuh diri seorang dokter perempuan yang masih muda. Dan sepertinya kasus ini viral karena penyebab bunuh dirinya adalah beratnya beban kerja dan juga korban mengalami bullying (perundungan). Kejadian ini menjadi viral setelah korban ditemukan pada tanggal 12 Agustus 2024, yang berdekatan dengan hari kemerdekaan negara kita yang tercinta. Dulu para pejuang kemerdekaan kita menggunakan daya amarah untuk membela nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, dan karenanya mereka membela dan mempertahankan harkat dan martabat bangsa Indonesia dari para penjajah.

Daya amarah adalah salah satu daya (kekuatan) yang ada pada setiap manusia. Saat daya ini kurang pada seseorang, maka akan menjadi penakut (kurang berani). Kalau terlalu berlebihan daya ini akan menjadi membabi buta (sifat berani yang terlalu berlebihan dan cenderung nekat yang tidak pada tempatnya). Sedangkan jika berada pada posisi moderat akan menjadikan diri kita sebagai pemberani. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa daya amarah merupakan daya yang bersifat melindungi diri kita dan berbagai kepentingan. Karena kesenangan kecakapan amarah terletak pada perasaan menjadi pemenang dan merasa puas ketika menguasai musuh dan bisa melakukan balas dendam. Dan akan merasa sengsara ketika dikuasai dan dikalahkan.

Oleh sebab itu, untuk melepaskan diri dan bangsa Indonesia dari penguasaan penjajah, kecakapan amarah ini termanifestasi dalam bentuk perjuangan demi meraih kemerdekaan. Karena landasan awal penggunaan daya amarah ini adalah memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan bangsa dan berlepas dari ketertindasan penjajah, maka perjuangan yang dilakukan tidaklah membabi buta, melainkan tampil sebagai pejuang yang pemberani. Ini pulalah yang kemudian melahirkan kedewasaan para pejuang kita dahulu sehingga senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang kemudian dituangkan ke dalam UUD 1945. Yang di dalamnya juga menentang setiap bentuk penindasan dan penjajahan.

Jika para pejuang kemerdekaan kita dahulu berada pada bentuk moderat dalam penggunaan daya amarah (sifat pemberani), yang dikarenakan karena ingin membela diri dan bangsa dari ketertindasan yang sesuai nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, maka daya amarah yang sering digunakan oleh kebanyakan orangtua dalam mendidik anaknya berupa bentuk yang cenderung berlebihan (membabi buta dan tidak pada tempatnya). Marahnya sangat berlebihan yang dilakukan kepada anaknya dan tidak ada dalam bentuk pembelaan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, melainkan hanya karena membela kepentingan ego semata. Yang terjadi seringkali berupa perundungan, dimana menggunakan daya amarah secara berlebihan hanya untuk melindungi ego diri.

Kebanyakan orangtua suka membela ego dirinya dengan memaksakan berbagai keinginan kepada anaknya, dimana ketika keinginannya tidak terpenuhi akan memicu kemarahannya yang berlebihan (tidak moderat). Mulai dari hal sepele seperti taplak meja yang dikotori, vas bunga yang pecah, hingga mewajibkan anak mesti rangking satu. Semua itu adalah keinginan egois (hanya demi kenyamanan diri sendiri) orangtua yang dipaksakan kepada anak. Dan membela keinginan egoisnya dengan menggunakan daya amarah untuk menindas anak. Inilah pola-pola penggunaan daya amarah yang cenderung berlebihan, yang seringkali lahir karena kepentingan egois. Berbeda dengan penggunaan daya amarah moderat dari para pejuang kemerdekaan, yang lahir sebagai bentuk membela kepentingan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan bangsa.

Karena daya amarah yang digunakan hanya untuk membela kepentingan egois, maka sifatnya cenderung berlebihan (melakukan perundungan). Dan karena ini pula, maka pola-pola yang diajarkan (tanpa sadar) kepada anak adalah pola-pola berupa menggunakan daya amarah untuk menguasai orang lain. Untuk juga melakukan perundungan kepada orang lain, setelah berhasil menguasainya. Semuanya demi membela kepentingan egois. Akhirnya anak cenderung melakukan penindasan (bullying) kepada teman-temannya disaat merasa memiliki kekuatan. Sedangkan para pejuang kita dahulu berjuang bukan demi kepentingan egois, melainkan demi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga yang lahir dari mereka pun bukanlah ingin menguasai (menjajah) bangsa lain, melainkan justru menentang segala bentuk penjajahan dan penindasan.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *