Spirit  

Black And White Thinking

Syahril Syam

Oleh Syahril Syam*)

Para pakar di bidang psikologi, khususnya mazhab psikologi kognitif, meneliti apa yang menyebabkan seseorang itu tidak bahagia. Salah satu hal menarik adalah, orang yang tidak bahagia lebih cenderung menggunakan gaya berpikir Black and White Thinking atau gaya berpikir Hitam-Putih. Contoh gaya berpikir ini: “Kalau kamu tidak menelpon saya sebentar malam, artinya kamu tidak sayang sama saya”; “Dia tidak tersenyum, sepertinya dia lagi marah padaku”; “Kalau membantu tetangga (tetangga rumah atau tetangga negara), berarti tidak peduli dengan kondisi di dalam rumah sendiri”.

Kalau pernah nonton film “Down of The Planet of The Apes”, di dalamnya ada Caesar (pemimpin kera) yang baru tersadar bahwa bangsa kera tidak beda jauh dengan manusia. Selama ini Caesar menyaksikan bahwa manusia ada yang jahat dan ada yang baik. Sedangkan Koba (kera kepercayaan Caesar) justru melihat semua manusia jahat. Akhirnya Koba melakukan konspirasi agar bangsa kera memusuhi manusia, karena “asumsi dasarnya” semua manusia jahat.

Selain Koba yang “sakit jiwa” karena terjebak “black and white thinking”, Caesar pun sempat terjebak dengan pemikiran seperti itu. Karena “asumsi dasar” Caesar adalah ada manusia jahat dan manusia baik, maka Caesar “berasumsi” bahwa kalau begitu, bangsa kera jauh lebih baik dari manusia. Karena pada kera tidak ada yang jahat, sehingga “pasti lebih baik” dari manusia. Namun ketika melihat “nafsu dendam dan keserakahan” Koba, Caesar akhirnya mengerti dan paham bahwa bangsa kera tidak berbeda dengan manusia, yaitu ada yang baik dan ada juga yang jahat.

Film tersebut menggambarkan dengan jelas tentang model berpikir “black and white thinking”, yang seringkali menjangkiti begitu banyak orang. “Jika tidak balas sapaanku, maka pasti sombong”; “Jika tidak memberi apa yang saya minta, maka pasti kamu pelit”; “Jika kamu curang maka saya pasti jujur (tidak curang)”. Jadi narasi “saya pasti benar dan kamu pasti salah”, adalah narasi yang dalam psikologi kognitif sebagai orang yang bergejala penyakit kejiwaan. Apalagi jika “merasa berhak” menggunakan kitab suci untuk menilai, sehingga nampak bahwa dirinya yang benar dan selain dirinya pasti salah.

Padahal kita semua ini tak luput dari salah dan khilaf. Dari contoh di atas, maka gaya berpikir Hitam-Putih ini selalu memiliki satu makna tafsiran saja dari berbagai peristiwa yang terjadi. Dan biasanya makna tafsiran itu selalu negatif. Hal inilah yang seringkali membuat seseorang terlalu sensitif dan gampang tersinggung. Seorang ulama sufi pernah memberi nasehat bahwa berilah multi tafsir atas apa yang terjadi. Karena kemungkinan, apa yang kita tafsirkan tidak sesuai fakta yang ada, atau bahkan sesungguhnya memiliki maksud yang baik. Maka berbahagialah, karena bahagia itu pilihan.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *