Oleh: Syahril Syam *)
Salah satu momen terberat dalam hidup adalah ketika gagal, terpuruk, terjatuh, dan mesti memilih bangkit. Momen ini sangat berat dan bahkan bagi sebagian besar orang akan memilih berhenti, dikarenakan adanya persepsi bahwa “mesti memulai dari awal”. Penelitian yang dilakukan kepada para pemain Major League Baseball (MLB) – kompetisi tertinggi dalam olahraga baseball – yang mesti pindah club karena trade (transfer pemain), ditemukan bahwa trade bisa menjadi positif maupun negatif.
Trade cenderung diartikan sebagai awal yang baru atau memulai lagi dari awal. Artinya pindah ke club lain dipersepsikan sebagai memulai lagi dari awal karena berada di club yang berbeda dari yang sebelumnya. Pemain yang awalnya berkinerja buruk, ketika mengalami trade ke club baru, akan mengalami peningkatan kinerja. Sedangkan pemain yang telah mengukir sekian banyak prestasi di sebuah club, akan mengalami penurunan prestasi ketika mesti trade ke club yang baru. Yang lebih mencolok lagi penurunan kinerjanya ketika nilai rata-rata pemain tersebut dihapus oleh perpindahan antarliga. Karena pengaturan awal yang menjadikan sukses sebelumnya terasa seperti masa lalu, dan memaksa pemain tersebut mesti membangun kembali rekornya dari nol.
Tapi benarkah kejadian yang seperti itu, berarti memulai lagi dari awal? Manusia seringkali mengabaikan fakta dan kenyataan, karena pada dasarnya setiap persepsi dan keyakinan adalah kenyataan internal kita yang bisa saja berbeda dari kenyataan dan fakta eksternal (di luar diri). Kita cenderung bersikap dan berperilaku berdasarkan kenyataan internal dan bukan berdasarkan kenyataan eksternal. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk selalu merevisi kenyataan internal (keyakinan) kita agar sesuai dengan kenyataan eksternal.
Secara fakta, tidak ada satupun makhluk yang bergerak mundur. Semuanya bergerak maju dan senantiasa mengalami perubahan. Artinya diri kita saat ini berbeda dengan diri kita pada detik sebelumnya, apalagi pada rentang waktu yang lama di masa depan. Setiap saat tubuh kita mengalami perubahan. Makanan yang kita makan akan berubah menjadi tubuh kita yang baru. Begitu pula dengan jiwa kita. Setiap hal yang kita pahami akan “menempel” pada jiwa, “menyatu” dengan jiwa, dan akhirnya menjadi jiwa kita yang baru.
Dulu kita tidak tahu membaca, namun dengan belajar, keahlian membaca “menempel” pada jiwa , “menyatu” dengan jiwa, dan akhirnya menjadi jiwa kita. Tak ada lagi pemisahan antara “keahlian membaca” dengan jiwa kita, karena “keahlian membaca” telah menjadi jiwa (diri) kita yang baru. Dengan jiwa yang baru ini kemudian menjadi pondasi untuk perubahan selanjutnya. Di kelas satu kita mulai belajar matematika dasar, maka di kelas dua keahlian matematika ini menjadi pondasi untuk mempelajari matematika lanjutan. Dan demikian seterusnya, setiap perubahan jiwa kita sesungguhnya menjadi dasar dan pondasi bagi perubahan selanjutnya.
Jadi ketika kita mengalami kegagalan dan keterpurukan, maka pada dasarnya kita tidak memulai dari nol. Karena hingga pada titik dimana kita gagal, diri (jiwa) kita telah mengalami banyak perubahan. Itulah sebabnya, ajaran NLP (Neuro-Linguistic Programming) mengatakan bahwa tidak ada yang namanya kegagalan, melainkan umpan balik. Jika kita menerima umpan balik yang belum sesuai harapan, maka umpan balik itu sebenarnya adalah pelajaran baru bagi kita untuk kemudian mengubah strategi.
Selain itu, hal penting dan paling utama adalah kehidupan ini bukan sekadar menggapai prestasi. Hidup adalah ladang bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Sempurna. Setiap pikiran, perasaan, sikap, perilaku, kebiasaan, dan pencapaian hidup adalah demi mengharapkan Ridha-Nya. Dan bukan demi pencapaian itu sendiri ataupun efek-efek (keuntungan) yang ditimbulkan oleh prestasi. Artinya, setiap pencapaian adalah pondasi bagi pencapaian selanjutnya. Sehingga setiap kegagalan adalah proses untuk pencapaian berikutnya, dan berbagai prestasi yang telah berhasil diukir adalah pondasi bagi pengukiran prestasi berikutnya. Karena jalan hidup adalah tentang mendekatkan diri kepada-Nya melalui berbagai pikiran, perasaan, sikap, perilaku, kebiasaan, dan pencapaian hidup. Jadi sebenarnya, kita tidak pernah memulai lagi dari awal. Yang terjadi adalah enggan meninggalkan perasaan nyaman atas prestasi yang telah diraih selama ini.
@pakarpemberdayaandiri






