Oleh: Syahril Syam *)
Mungkin salah satu hikmah dibalik adanya leher pada manusia adalah karena leher merupakan penghubung antara otak sebagai pengendali diri dan tubuh sebagai penggerak diri. Tanpa otak, kita tidak bisa berpikir dan memutuskan arah yang akan dipilih. Namun tanpa tubuh, kita tidak akan bisa bergerak dan berpindah tempat. Seluruh tindakan, perilaku, dan kebiasaan kita digerakkan oleh tubuh.
Itulah sebabnya, segala hal yang sudah terekam di tubuh akan menjadi suatu program kebiasaan dan dijalankan oleh tubuh tanpa perlu dikontrol lagi oleh otak kita. Bisa dibayangkan betapa sulitnya kita, ketika hendak berjalan saja mesti dipikirkan kaki mana yang akan lebih dulu bergerak dan bagaimana mesti menggerakkan kaki. Jadi semuanya dijalankan oleh tubuh secara otomatis, tanpa melibatkan otak sadar kita. Dan karena itu pula, tubuh juga memiliki “mekanisme pikiran” sendiri, karena semua yang dijalankan secara otomatis mesti berada di bawah kendali “mekanisme pikiran” yang juga otomatis. Dengan kata lain, tubuh juga memiliki “pikiran” sendiri yang sistemnya berbeda dengan mekanisme pikiran sadar yang terjadi di otak.
Karena sistem tubuh bersifat otomatis, maka apapun yang terekam di tubuh akan dijalankan tanpa memandang apakah baik atau buruk. Tubuh tidak bisa melakukan penalaran dan analisa, sehingga semuanya dijalankan otomatis. Penilaian baik dan buruk hanya bisa dilakukan oleh sistem otak sadar kita. Dan karena itu pula, seringkali apa yang dijalankan tubuh (kebiasaan) bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan otak sadar. Secara sadar ingin memilih melakukan hal benar dan baik, namun karena yang terekam di tubuh adalah kebiasaan buruk, maka hal buruk itulah yang dijalankan tubuh.
Hal penting yang mesti disadari adalah tubuh kita juga memiliki kecenderungan-kecenderungan. Sejak lahir tubuh kita sudah meronta untuk meminta makan dan minum. Pada usia puber, tiba-tiba muncul dorongan seksual. Sejak anak-anak mulai merasa senang ketika memiliki benda-benda atau terpenuhinya berbagai keinginan. Semua itu adalah kecenderungan-kecenderungan tubuh kita. Dan karena semua itu merupakan bawaan semenjak lahir, maka semua itu telah terekam dan menjadi sistem operasi dasar di tubuh kita.
Karena apapun program yang telah terekam di tubuh akan membuat tubuh selalu mengirimkan sinyal ke otak agar otak berpikir sesuai yang dirasakan oleh tubuh. Maka seringkali – pada kebanyakan orang – otaknya dibajak oleh tubuh, bahkan kadang otak tidak lagi berpikir waras hanya demi untuk memenuhi berbagai hasrat. Kegelisahan yang dirasakan oleh tubuh akibat belum terpenuhinya berbagai hasrat – berupa makan, minum, seks, dan keinginan akan benda-benda – membuat tubuh membajak otak agar otak bisa berpikir bagaimana cara memenuhi semua hasrat itu. Maka jangan heran, sebagian besar orang bekerja hanya karena ingin bisa mendapatkan uang.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Amy Wrzesniewski, level motivasi kerja hanya demi uang adalah level motivasi yang paling rendah. Ia bekerja hanya demi uang, dimana sekadar bekerja demi kebutuhan hidup (sekadar menjalani profesi). Dan motivasi ini lahir dari kegelisahan diri akibat selalu ingin memenuhi berbagai hasrat tubuh. Yang terjadi akhirnya, ia berputar pada siklus kegelisahan dan kecemasan yang mengakibatkan munculnya stres kronis rutin di setiap hari.
@pakarpemberdayaandiri






