Spirit  

Idul Adha, Pilihan dan Pengorbanan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)

Oleh: Syahril Syam *)

Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, hidup senantiasa menempatkan kita untuk selalu memilih. Karena tidak peduli seberapa besar kekuasaan dan banyaknya uang yang kita miliki, keadaan selalu menempatkan kita untuk memilih. Kita bisa saja membeli seluruh jenis makanan, tapi saat memakannya, kita mesti memilih. Kita mungkin bisa saja membeli seluruh jenis pakaian yang ada di dunia, tapi saat memakainya kita mesti memilih. Itulah sebabnya, dalam pilihan selalu ada skala prioritas dan karena itu pula kita mesti mengorbankan selain dari yang kita telah pilih.

Tak ada satupun yang ketika itu untuk diri kita, yang tidak kita pilih. Kehidupan menempatkan untuk selalu menjadikan hati kita terikat pada suatu pilihan dan mesti mengorbankan selain dari yang hati kita sukai. Mungkin itu sebabnya sehingga Sang Maha Sempurna hanya memberikan satu hati kepada diri kita. “Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya (QS 33:4)”.

Karena setiap sikap, kecenderungan, dan tindakan kita senantiasa lahir dari hati, maka saat kita memilih, hati kita saat itu terpikat dan terikat dengan yang kita pilih. Dan karenanya, hati kita akan kemudian mesti mengorbankan selain yang kita pilih. Sesulit apapun pilihan yang kita buat dan sesulit apapun yang hati kita rasakan disaat mesti memilih pilihan-pilihan yang sama-sama kita sukai, namun disaat menentukan pilihan, kita akan selalu mengorbankan selain yang kita pilih.

Dan karena itu pula, semakin besar rasa suka dan cinta kita pada sesuatu, maka semakin besar pula perasaan keterikatan yang kita rasakan pada sesuatu itu, sehingga semakin besar hati kita untuk memilih hal tersebut. Dan sebaliknya, semakin besar perasaan tidak suka kita pada sesuatu, maka semakin mudah kita mengorbankan sesuatu yang tidak kita sukai.

Dengan kata lain, semakin besar rasa suka dan cinta kita, maka semakin besar keterikatan hati kita, dan semakin sulit pula kita merasa ikhlas untuk melepaskannya. Dan semakin tidak suka kita, maka semakin kecil keterikatan hati kita, dan semakin mudah kita melepaskannya. Jadi wajar ketika kita begitu mencintai pasangan kita, anak, atau sesuatu yang begitu berharga, maka semakin kita rela melakukan apapun bagi yang kita cintai tersebut. Ada yang rela berkorban untuk sang kekasih tercinta, untuk anak tercinta, hingga ada yang rela berkorban untuk benda-benda yang dicintainya.

Jadi kunci pengorbanan dan keikhlasan adalah pada seberapa besar rasa cinta dan keterikatan hati kita pada orang atau benda. Dalam konteks kehidupan akhirat yang diharapkan membahagiakan, maka ada dua hal yang saling berhadapan untuk kita pilih. Antara memilih mencintai dunia dan seisinya, ataukah memilih mencintai Sang Maha Sempurna. Antara memilih mengikuti dorongan hawa nafsu atas rasa cintanya kepada dunia ataukah memilih untuk mengaktualkan akal (pemahaman dan keterikatan hati) kepada Sang Maha Sempurna.

Pilihan yang paling baik adalah yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as dan anaknya Ismail as. Ayah dan anak, keduanya menunjukkan bahwa pikiran dan hatinya benar-benar murni hanya tertuju dan terikat kepada Sang Maha Sempurna. Sehingga tidak ada satupun di dunia ini yang sanggup menghalangi keterikatan hati mereka kepada-Nya. Inilah mungkin yang merupakan makna dari perayaan Idul Adha.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *