Catatan D. Supriyanto Jagad N *)
Sebagai bangsa yang besar kita sangat beruntung karena rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga pulau Rotte sampai hari ini masih tetap teguh menjunjung kesatuan dan persatuan dengan lintas suku, lintas agama dan lintas kebudayaan dalam situasi apapun yang terjadi di NKRI ini secara baik, benar, bermartabat, beretika dan bermoral, agar kita tidak mudah dipecah belah oleh bangsa – bangsa yang ingin menguasai kekayaan bumi Nusantara dengan cara apapun juga.
Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang sangat dikenal dengan berbagai adat ketimuran nya, sejak bernama Nusantara. Bangsa yang terkenal dengan kerendahan hatinya serta memiliki budi pekerti yang luhur telah menjadi branding Nusantara sejak abad para raja – raja Nusantara yang telah terkenal sejak dulu hingga kini, baik sejak tatanan kerajaan Hindu, Budha, hingga kerajaan Islam Nusantara yang merangsek masuk ke pulau Jawa dan ke pulau – pulau lainnya.
Sejak zaman tersebut hingga kini fakta di lapangan telah membuktikan kehalusan budi pekerti para pendahulu leluhur Nusantara bahkan saat itu belum dikenal istilah toleransi tetapi ruh nya telah berjalan dan tertanam dalam asimilasi dan kulturasi dalam menyikapi budaya, baik budaya baru dengan budaya lama yang harus tetap dapat sejalan.
Budi pekerti yang diwariskan oleh para leluhur Nusantara secara turun temurun itu berada pada puncaknya saat bangsa Nusantara menata diri untuk melepaskan dari lingkungan dan tekanan bangsa penjajah,”
Kekayaan Budi pekerti yang telah diwariskan secara turun temurun itu melahirkan satu bangsa yang kuat dan berbudi luhur dalam merepresentasikan sikap dan keteguhan bangsa Indonesia walaupun untuk menjadi bangsa yang besar diperlukan falsapah dan idiologi yang kuat dan berbudi pekerti yang luhur.
Pada masa sebelum dikumandangkan nya kemerdekaan Indonesia, lewat satu kelompok yang bernama PPKI ada tiga anak bangsa yang cerdas dan menjadi tokoh bangsa Indonesia hingga kini yaitu ; Ir. Soekarno, M Yamin dan Soepomo terbentuklah lima sila sebagai dasar acuan berbangsa dan bernegara yang hingga detik ini, yaitu PANCASILA.
Pancasila menjadi satu prasasti dan tolak ukur peradaban Bangsa Indonesia yang selalu harus ditanamkan di semua lapisan rakyat Indonesia dimasa kini, masa yang akan datang dan hingga dunia ini berakhir.
Nusantara memiliki kekayaan budaya yang berbudi pekerti luhur serta memiliki nilai – nilai kehidupan yang tinggi dan menjadi dasar berdirinya bangsa Indonesia serta sebagai dasar kemajuan Bangsa ini dimasa – masa yang akan datang.
Merekonstruksi sebuah konstruksi pemikiran dari perjalanan sejarah sebuah bangsa, adalah sesuatu yang sangat menarik dan menantang. Kita akan terprovokasi dengan gagasan-gagasan baru, bagaimana membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Kekuatan gagasan, yang kerapkali sebenarnya sederhana saja sepanjang mengikuti garis logika – membuka pikiran, membuka pintu bagi trouble shooting. Pemecahan masalah, seringkali terjadi dengan cara dan pikiran sederhana.
Ada kalanya sebuah pemikiran tidak terformulasi secara sekaligus dalam satu masa, melainkan terkadang terserak-serak dalam moment-moment yang tidak beraturan dan sering kali, bahkan muncul secara sporadic, tidak terencana.
Kembali pada tujuan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, disadari atau tidak, kita telah abai terhadap perjuangan para leluhur pendahulu kita, pendiri republik ini. Ruh dalam hidup berbangsa dan bernegara nyaris hilang, hanya tinggal sisa-sisa bayangan tanpa makna.
Manakala kita abai dan melupakan sejarah, maka kita akan kehilangan kompas hendak kemana kita menuju. Ini berlaku tidak hanya pada diri kita selaku individu, namun apalagi sebagai bangsa, aspek sejarah dan kesejarahan menjadi sangat penting dan mutlak dibutuhkan dalam mencari sandaran dan pegangan di kala kita merasa telah kehilangan pegangan atau kehilangan orientasi ketika kita menghadapi berbagai masalah yang menyentuh dan mengoyak kesadaran kita sebagai bangsa.
Indonesia, adalah sebuah bangsa dan Negara yang besar yang telah melalui perjalanan sejarah yang sangat panjang, bahkan ribuan tahun yang lalu, eksistensi manusia yang menempati gugusan pulau di antara ( Nusa – antara, Nusantara ) dan benua ( Asia dan Australia ) dan dua Samudera ( Hindia dan Pasifik ), sudah eksis dan telah melahirkan peradaban yang sangat besar.
Krisis identitas
Pada saat sekarang ini, Indonesia sedang mengalami krisis identitas, untuk mengatasi hal tersebut kita perlu menyadari bahwa Tuhan menciptakan setiap bangsa dengan keunikan dan jati diri masing – masing.
Kita harus menyadari bahwa bangsa Indonesia keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Dalam dunia Pendidikan sendiri diperlukan adanya pendidikan kewarganegaraan (PKN) yang harus diajarkan sejak dini agar para penerus bangsa semakin mengerti tentang identitas bangsa nya sendiri sehingga tidak terpengaruh dengan budaya – budaya asing yang masuk ke Indonesia. Para siswa tidak hanya belajar teori dari pendidikan kewarganegaraan (PKN) tetapi juga harus menerapkan nya dalam kehidupan sehari – hari. Siswa juga harus berpegang teguh pada Pancasila sebagai identitas bangsa dan menjadi pedoman hidup bangsa.
Krisis identitas merupakan masalah yang serius kita khawatir dengan adanya krisis identitas ini kita menjadi kurang sadar dan menurunnya rasa cinta tanah air. Untuk mengatasi krisis identitas kita perlu mengembangkan rasa nasionalisme, salah satunya dengan cara memakai barang – barang buatan bangsa sendiri, diperlukan adanya pendidikan karakter yaitu pendidikan kewarganegaraan (PKN) agar para siswa semakin mengerti tentang identitas bangsanya, diperlukan adanya pelestarian budaya, pemerintah harus mendanai kebutuhan – kebutuhan pelestarian tersebut agar asset budaya kita terjaga kelestariaannya.
Sehingga dapat menarik kesimpulan bahwa identitas nasional mengalami kemerosotan dari nilai – nilainya akibat pengaruh dari budaya asing yang masuk ke Indonesia.
Oleh karena itu, identitas nasional merupakan sesuatu yang sangat penting untuk ditanamkan pada generasi muda terutama mahasiswa karena hal tersebut menyangkut masa depan bangsa. Pada zaman sekarang ini, sudah banyak sekali terjadi perubahan dalam berbagai aspek kehidupan yang tentu saja dapat dirasakan oleh kebanyakan orang salah satu penyebabnya karena adanya pengaruh dari arus globalisasi.
Banyak sekali budaya asing masuk dan berkembang di kalangan masyarakat terutama pada generasi muda. Hal itu tentu saja mengancam dan membahayakan identitas nasional jika tidak terkendali. Krisis identitas nasional dapat terjadi khusunya pada generasi muda utamanya para mahasiswa yang sangat mudah terpengaruh dengan arus globalisasi.
Untuk itu, perlu adaya kesadaran untuk menjaga nilai-nilai budaya sebagai identitas nasional yang semakin memudar.
*) Pekerja budaya, penikmat kopi pahit










