Oleh : Syahril Syam*)
Selama ini, kebanyakan orang beranggapan bahwa rasa bersalah adalah perasaan negatif. Perasaan yang bahkan nilai energinya sangat rendah dan cenderung menyerap energi diri. Asumsi ini terjadi karena emosi selalu dipandang sebagai negatif dan positif. Padahal emosi yang seringkali dianggap negatif juga memiliki sisi konstruktif (memberdayakan diri). Olehnya itu, emosi tidak layak dipandang sebagai negatif dan positif, melainkan destruktif (melemahkan diri) dan konstruktif (memberdayakan diri).
Salah satu emosi yang memiliki sisi konstruktif adalah merasa bersalah. Rasa bersalah sebenarnya adalah sebentuk pengadilan internal kita. Jiwa yang bersifat mengadili diri sendiri karena tahu ada sesuatu perbuatan yang salah. Artinya pada sisi ini, perasaan bersalah menjadi kontrol bagi diri kita untuk kembali memperbaiki diri kita, dan bukannya larut dalam perasaan bersalah yang akhirnya menyebabkan kegelisahan yang berlarut-larut.
Rasa bersalah cenderung menjadi destruktif ketika perasaan ini diabaikan. Sinyalnya tidak ditindaklanjuti dengan memperbaiki diri, melainkan semakin hanyut ke dalam perasaan bersalah. Keadaan inilah yang menyebabkan perasaan bersalah menjadi tidak baik bagi diri kita. Karena menjadi penyerap energi diri dan semakin melemahkan keadaan diri. Keadaan ini akan menghadirkan stres dan membuat seseorang semakin terpuruk hingga depresi.
Seseorang yang hanyut ke dalam perasaan bersalah memanifestasikan dirinya dalam berbagai ekspresi, seperti penyesalan, saling menyalahkan, dan masokisme. Rasa bersalah yang tidak disadari menyebabkan penyakit psikosomatik, rawan kecelakaan, dan perilaku bunuh diri. Banyak orang bergumul dengan rasa bersalah sepanjang hidup mereka, sementara yang lain berusaha mati-matian untuk menghindarinya dengan secara amoral menyangkal rasa bersalah samasekali.
Rasa bersalah adalah konsekuensi dari ingatan akan tindakan masa lalu yang disesali saat diingat kembali. Ini hanya dapat dilampaui dengan rekontekstualisasi. Kesalahan adalah konsekuensi alami dan impersonal dari pembelajaran dan pengembangan dan karena itu tidak dapat dihindari. Sehingga pada dasarnya, rasa bersalah mengandung makna pembelajaran dari kesalahan yang dilakukan. Rasa bersalah bisa menjadi emosi edukatif yang muncul sebagai peringatan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Masa lalu tidak dapat ditulis ulang, tetapi dapat dikontekstualisasikan kembali sehingga menjadi sumber pembelajaran yang konstruktif. Penyesalan atas peristiwa atau keputusan masa lalu dapat diperbaiki dengan menyadari bahwa itu “tampak seperti ide yang bagus pada saat itu”.
@pakarpemberdayaandiri






