Opini  

Saatnya Merajut Kembali Kebersamaan

Foto ilustrasi

Catatan Jagad N *)

Usai  menunaikan hak suara dari bilik TPS tak jauh dari rumah saya, tanpa sengaja saya bertemu Bang Rojak, budayawan Betawi yang ramah dan murah senyum.

“ Om, yuk kita ngupi di warkop pojok dekat warung Uco,” ajak Bang Rojak.

Sayapun langsung mengiyakan ajakannya. Bang Rojak memiliki wawasan yang luas tentang budaya maupun politik. Dari Bang Rojak, saya banyak belajar mensikapi dinamika sosial politik yang berkembang dinamis akhir-akhir ini.

“ Om, meski pilihan poltik kita berbeda, tapi perbedaan itu tidak lantas kita tarik-tarik menjadi kebencian. Tugas kita adalah mengawal bagaimana perjalanan bangsa ini menuju arah perbaikan, siapapun pemimpinnya,” kata Bang Rojak, sambil memainkan kepulan asap rokok.

Cara pandang yang sejuk. Pemilu harus dijadikan sebagai pesta kebudayaan, yakni budaya untuk berdemokrasi. Karena demokrasi tidak hanya soal masuk pada Tempat Pemungutan Suara (TPS), tapi demokrasi yang baik adalah demokrasi yang hidup oleh budaya.

Indonesia punya semboyan Bhineka Tunggal Ika, hal tersebut harus mendasari kepemiluan di Indonesia. “Kita beda pendapat, (atau) kita beda calon, tapi beda bukan untuk membuat kita pecah, tapi beda itu menjadikan kita dengan proses pemilu itu terintegrasi kembali.

Pemilu dan budaya demokrasi telah menjadi isu abadi yang akan muncul kapan saja, dari masa ke masa, termasuk hari-hari ini, ketika rakyat Indonesia berderap menuju bilik suara untuk menentukan calon pemimpin untuk bangsa ini. Pemilu sebagai manifestasi kontestasi demokrasi sejatinya juga ujian kebudayaan, bahkan peradaban suatu bangsa. Keberhasilannya membutuhkan sikap dan tindakan yang dewasa dalam berdemokrasi.

Kita telah menunaikan hak suara kita sebagai warga negara untuk memilih calon pemimpin bangsa 5 tahun ke depan. Sudah saatnya kita merajut kebersamaan demi membangun Indonesia.

Proses pemilu merupakan karunia dan nikmat yang harus kita syukuri, karena menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam berdemokrasi. Pemilu merupakan instrumen untuk mewujudkan tujuan bernegara, diantaranya adalah mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan umum.

Selama masa kampanye hingga pencoblosan, bisa jadi selama kontestasi ada debat, adu program atau gagasan yang berdampak pada ketegangan dan perselisihan. Dan puncaknya, kita telah menunaikan pemilihan, hasilnya harus diterima dengan lapang dada untuk kemenangan Indonesia. Kita harus legowo, apapun hasil pemilu. Kemenangan atau kekalahan, adalah realitas dalam kontestasi. Perlu penyikapan yang positif untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Demokrasi kontestatif yang dijauhkan dari perspektif kebudayaan akan menyempit ke sekadar kontestasi menang-kalah. Lazim disebut, kebudayaan itu berpintu banyak, dan hanya ada satu pintu dalam politik.

Kebudayaan memberi banyak alternatif menuju konsensus kehidupan berbangsa yang harmonis dan produktif, sementara politik dalam memandang segala sesuatu sering kali sebatas, meminjam Kuntowijoyo, ”kacamata kuda”. Politik berisiko kontraproduktif. Tanpa bingkai kebudayaan, politik hanya akan berkutat pada pragmatisme-transaksional dan paradigma menang-kalah.

Yang jadi masalah, dan inilah yang harus terus kita ikhtiarkan, adalah kualitas pemilu dan demokrasi. Ukuran-ukurannya bertumpu nilai-nilai substansial demokrasi agar dapat terimplementasi secara baik. Sebagai bangsa yang mampu merawat kebinekaan dan persatuan, terlepas gegap gempitanya dinamika sosial dan politik sepanjang lintasan sejarah bangsa, sesungguhnya kita telah memiliki modal kebudayaan yang kondusif bagi demokrasi.

Usai pemilu, saatnya merajut kembali kebersamaan. Pesta telah usai, mari kita bersihkan hal-hal negatif yang mengotori pikiran-pikiran kita. Kita tidak perlu berdebat kusir yang berujung pada perpecahan. Ada yang lebih suci yang harus kita perjuangkan, yakni mengawal hasil-hasil demokrasi, menuju ke arah yang lebih baik. Kita sudah lelah dengan pertikaian, sehingga lupa untuk membangun.

Lenteng Agung, 14 Februari 2024

*) Pekerja media, Sekretaris Jenderal DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *