Spirit  

Isra Mikraj: Rasulullah SAW Sebagai Role Model Sempurna

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Perjalanan dalam dunia fisika ditandai dengan berpindahnya sebuah objek dari titik awal ke titik akhir. Bisa juga disebut berpindahnya sebuah objek dari titik potensi ke titik aktualnya. Ada jarak antara titik awal dan titik akhir. Begitu pula dengan perjalanan diri (jiwa) kita, yaitu senantiasa bergerak dari titik potensi ke titik aktual. Karena jiwa adalah non materi, maka perjalanan manusia disebut sebagai gerak kesempurnaan transenden. Bedanya dengan perjalanan di dunia fisika, perjalanan jiwa tidak meniscayakan jarak materi (seperti meter atau kilometer), melainkan jaraknya berupa level-level, derajat-derajat, atau maqam-maqam.

Dulu kita tidak tahu membaca, kemudian melalui karunia usaha kita akhirnya bisa membaca. Maka kita bergerak dari potensi membaca ke aktualitas membaca. Ini berarti semua sifat yang melekat pada diri kita, pada mulanya adalah potensi dan kemudian melalui karunia usaha kita mengaktualkannya. Itulah sebabnya, manusia adalah potensi dari seluruh Nama-nama Sang Maha Sempurna, yang kemudian nantinya akan teraktual sesuai dengan dengan karunia-Nya dan kadar usaha manusia.

Karena Sang Maha Sempurna mustahil terlingkupi oleh segala sesuatu, akan tetapi Dia-lah yang melingkupi segala sesuatu, maka perjalanan manusia digambarkan sebagai dua sisi busur, yaitu perjalanan busur turun dan perjalanan busur naik, yang digambarkan oleh Al-Qur’an: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (QS 2:156). Bahwa kita berasal dari Sang Maha Sempurna dan ini adalah perjalanan busur turun. Kemudian kita akan kembali lagi pada-Nya dan ini adalah perjalanan busur naik. Dengan kata lain, segala sesuatu pasti akan berjalan kembali kepada-Nya.

Perjalanan kembali ini (busur naik) ada yang bersifat umum dan ada yang khusus. Secara umum, tidak ada satupun makhluk yang tidak akan kembali pada-Nya. Manusia pun pasti akan melewati kematian dan karenanya kematian bukanlah ketiadaan atau kemusnahan, melainkan pintu gerbang perjalanan kembali kepada-Nya. Sedangkan perjalanan khusus adalah perjalanan kembali yang dilakukan secara sadar oleh diri kita selama masih hidup di dunia. Dengan kata lain, melalui karunia kesadaran dan usaha, kita sengaja “mematikan diri” sebelum mengalami kematian natural.

Kita sengaja melakukan perjalanan kembali pada-Nya dengan menggerakkan diri (jiwa) dari titik potensi ke berbagai aktualitas diri yang sesuai aturan-Nya. Dalam bahasa akhlak, kita bergerak dari level hewani ke level malaikat. Atau dalam bahasa neurosains, kita bergerak dari level kecanduan emosional ke level kemerdekaan prefrontal korteks (otak yang berada tepat di belakang dahi).

Kecanduan emosional berarti seseorang dikuasai oleh emosi-emosi destruktif dan negatif. Perasaan marah, iri hati, dengki, dendam, ujub, riya, dan berbagai derivatnya mengaktual dan mengontrol diri secara menyeluruh. Ketika ini terjadi, maka semua emosi-emosi destruktif itu menjadi penyerap energi karena terkuras habis hanya untuk menyelesaikan masalah sendiri. Dirinya telah menjadi egois sepanjang waktu. Menjadi orang yang memanjakan diri sendiri, self-centered, merasa penting, mengasihani diri, dan membenci diri. Sel tubuhnya pun bahkan menjadi egois dan tidak mau bekerjasama. Inilah yang disebut nafs ammarah, yang merupakan level jiwa yang rendah.

Nafs ammarah membuat seseorang ingin serba mengendalikan segala sesuatu, yang suka memerintah hanya demi kepentingan egoisnya semata. Tidak suka diperintah dan tidak mau turun dari kekuasaan egonya, sehingga tidak mau mengakui diri sebagai hamba yang hina. Al-Qur’an menyebutkan keadaan ini sebagai “orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)?” (QS 45:23).

Itulah sebabnya perjalanan kembali kepada-Nya adalah perjalanan melepaskan ego diri dan bergerak ke diri yang hina dan penghambaan di hadapan Hak SWT. Bergerak dari akhlak buruk ke akhlak mulia, bergerak dari level hewan ke level malaikat, bergerak dari kecanduan emosional ke kemerdekaan prefrontal korteks. Dari hal ini juga bisa kita ketahui bahwa perjalanan ini adalah perjalanan menuju jiwa yang suci. Karena Sang Maha Suci hanya bisa didekati oleh jiwa yang suci pula. Jadi perjalanan kembali sesungguhnya adalah perjalanan menyucikan diri (jiwa) kita melalui karunia usaha sadar dan kehendak bebas.

Pada perjalanan di dunia fisika, pejalan dan jalan itu terpisah, sedangkan pada perjalanan kembali kepada-Nya, pejalan (jiwa) dan jalan adalah satu. Artinya diri (jiwa) kita berjalan kembali pada-Nya dengan menaiki tangga-tangga jiwa kita sendiri. Bergerak dari derajat jiwa yang rendah ke derajat jiwa yang lebih tinggi. Saat kita bergerak ke level diri (jiwa) yang lebih tinggi, maka saat itu tubuh bukan lagi penjara bagi jiwa.

Alam semesta itu milik fisika kuantum. Artinya ketika fisikawan kuantum mulai melihat aspek atom yang lebih kecil dan sangat kecil, seperti apa yang membentuk nukleus, semakin dekat mereka melihat, semakin tidak jelas atom itu, sampai akhirnya menghilang sama sekali. Atom, menurut mereka, tampak seperti 99,999999999999 persen ruang kosong.

Tapi ruang itu tidak benar-benar kosong. Itu benar-benar penuh dengan energi. Lebih khusus lagi, ini terdiri dari susunan frekuensi energi yang luas yang membentuk semacam bidang informasi yang tidak terlihat dan saling berhubungan. Jadi, jika setiap atom adalah 99,999999999999 persen energi atau informasi, itu berarti bahwa alam semesta kita yang diketahui dan segala sesuatu di dalamnya — tidak peduli seberapa padat materi itu tampak bagi kita — pada dasarnya hanyalah energi dan informasi.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa ketika mereka mengamati partikel materi subatom, mereka dapat mempengaruhi atau mengubah perilakunya. Alasan mereka ada di sini dan pergi (dan kemudian di sini dan pergi lagi sepanjang waktu) adalah karena semua partikel ini benar-benar ada secara bersamaan dalam berbagai kemungkinan atau probabilitas yang tak terbatas di dalam medan energi kuantum yang tak terlihat dan tak terbatas. Hanya ketika seorang pengamat memusatkan perhatian pada satu lokasi dari satu elektron mana pun, elektron benar-benar muncul di tempat itu.

Manusia sebenarnya bukanya hanya pengamat alam semesta, melainkan juga merupakan pengamat bagi dirinya sendiri. Sehingga ketika kesadaran diri kita berada pada level jiwa yang tinggi, maka pada dasarnya kita semakin meng-energi. Tubuh yang bersifat materi tidak lagi menguasai jiwa, tetapi jiwa yang non materi sepenuhnya menguasai tubuh. Jadi saat kesadaran kita berada pada level yang tinggi, kita pun tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Inilah mungkin, yang atas izin dan karunia-Nya, terjadi pada Rasulullah SAW dengan melakukan perjalanan Isra. Berpindah dengan sangat cepat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.

Penting untuk digarisbawahi bahwa jiwa memang memiliki potensi kekuatan-kekuatan yang bersifat supranatural. Sehingga ketika dilatih, jiwa kita bisa memperoleh kekuatan-kekuatan tertentu. Akan tetapi, seorang hamba yang secara sadar melakukan perjalanan kembali tidak terpaku dengan kekuatan tertentu itu. Semua kekuatan-kekuatan itu hanya konsekuensi dari perjalanannya menuju Sang Maha Sempurna, dan bukan diperoleh karena melatih kekuatan jiwa.

Seorang pejalan (pesuluk) tidak akan pernah teralihkan perhatiannya kecuali hanya kepada Hak SWT. Maka perjalanan jiwanya pun akan terus menaiki tangga-tangga spiritual yang lebih tinggi hingga akhirnya berada di pintu gerbang fana. Suatu kondisi ketika seluruh pikiran dan hatinya telah terputus dari tarikan duniawi dan hanya terfokus kepada Wujud Yang Maha Sempurna. Jika perhatian seseorang semakin terfokus pada duniawi dan menyebabkan dirinya kecanduan emosional dan egois (mempertuhankan dirinya), sehingga membuat kesadaran dirinya terpecah-pecah karena sibuk memikirkan berbagai hal, maka saat fana kesadaran dirinya berpindah dari kejamakan ke Ketunggalan Sang Maha Sempurna.

Diri (jiwa) akan semakin bergerak naik hingga tak ada satupun hal di dunia ini yang merisaukan pikiran dan hatinya, yang digambarkan Al-Qur’an sebagai jiwa yang tenang (nafs Muthmainnah). Dan ini adalah karunia yang mesti didambakan oleh para pejalan kembali. “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)” (48:4). Seorang arif berkata, “Ketenangan berarti tidak ada lagi pengaruh kekuasaan hawa nafsu, syahwat, dan kecenderungan jiwa. Sebaliknya, keridhaan Allah SWT menggantikan posisi kecenderungan dan syahwat tersebut”.

Lebih lanjut dikatakan bahwa al-Sakinah berarti ketenangan dan ketentraman serta tiadanya kegelisahan selamanya. Hamba-hamba Allah SWT saat berada di kondisi ini, kendatipun memiliki dunia beserta isinya, kemudian semuanya sirna dalam sekejap mata, itu baginya bagaikan sehelai bulu yang menempel di tubuhnya yang kemudian hilang di terpa angin. Kejadian itu tidak meninggalkan pengaruh apapun bagi jiwanya. Karena hanya Sang Maha Sempurna-lah satu-satunya penolong dan tempat berharap.

Inilah kondisi ketika seorang hamba telah “sampai” atau wushul, dimana keterpisahan pejalan dengan seluruh wujudnya dari selain Hak SWT. Sebagai hasilnya pejalan tidak menyaksikan dengan batinnya selain Hak dan apa saja yang ia dengar semuanya dari Hak. Hamba tidak menyaksikan sesuatu yang lain kecuali dari Tuhan dan tidak ada sesuatu pun pikiran dan kemauan yang sampai kepada batinnya dari sisi selain Tuhan. Wushul tidak mungkin jika belum fana. Sebab, maujud materi selama ia tidak terlepas dari jeratan perkara-perkara materi maka tidak akan sanggup menanggung kudrah Ilahi. Dari sisi lain dalam kondisi fana juga tidak bisa terjadi ittishal. Oleh karena itu, pejalan nanti setelah fana, yaitu baqa dalam kebaqaan Tuhan baru dapat menerima cahaya-cahaya tajalli Hak SWT.

Para arif saat menjelaskan wushul, menggambarkannya sebagai mikraj Nabi Muhammad SAW. “Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi)” (QS 53:8-9). Nabi Muhammad SAW dalam mikraj tersebut melewati maqam qaba qausain (maqam wahidiyah) dan sampai pada maqam adnaa (maqam ahadiyah). Maka sangat wajar kalau kita menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai Manusia Sempurna. Manusia yang telah secara sempurna menaiki tangga-tangga spritual. Dan kondisi ini menyebabkan betapa suci dan mulianya Rasulullah SAW.

Dalam penelitian gelombang otak dalam kaitannya dengan kesadaran manusia diketahui bahwa manusia berfungsi sebagai saluran penghubung antara alam non materi dengan alam materi. Sejalan dengan itu, menurut para arif Insan Kamil (Manusia Sempurna) adalah jiwa dari alam. Ia mempunyai sisi yang menghadap ke alam Ilahiyah serta menerima emanasi dan sisi lainnya mengarah alam ciptaan sebagai kanal yang mengalirkan emanasi Rahmat dari Hak SWT. Sehingga dengan inilah Rasulullah SAW merupakan Rahmat bagi seluruh alam semesta. Karena melalui Rasulullah SAW, emanasi Rahmat-Nya mengalir ke seluruh alam semesta.

Dengan mendapatkan gambaran singkat tentang Isra Mikraj Rasulullah SAW, kita memperoleh gambaran (walau sangat sederhana karena keterbatasan al-faqir) tentang perjalanan kembali kepada-Nya. Isra Mikraj adalah tanda bahwa Rasulullah SAW adalah contoh atau role model bagi kita dalam perjalanan menaiki tangga-tangga spiritual. Mungkin ini pula sebabnya sehingga Hak SWT berfirman kepada seluruh hamba-hamba-Nya untuk mengikuti dan meneladani Rasulullah SAW. “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah” (QS 33:21).

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *