BRIN Dorong Kolaborasi Dunia Usaha Capai Net-Zero Emission Berbasis Sains

Gedung BRIN [Foto istimewa]

MAJALAHCEO.co.id, Jakarta – Dalam upaya mempercepat pencapaian komitmen net-zero emission di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama UN Global Compact Network Indonesia (IGCN), dan Science Based Targets initiative (SBTi) menyelenggarakan Roundtable Discussion bertajuk “Achieving Corporate Climate Ambition in Indonesia: Understanding SBTi Fundamentals & Sectoral Pathways”, di Auditorium Gedung B.J. Habibie BRIN, Jakarta, Rabu (15/10).

Kegiatan ini menjadi wadah dialog antara pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga non-bisnis untuk memperkuat pemahaman penerapan target iklim berbasis sains serta menjajaki kolaborasi menuju ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menegaskan bahwa kontribusi dunia usaha memegang peran kunci dalam upaya nasional mencapai target net-zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

“Transformasi menuju ekonomi hijau tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah. Dunia industri harus menjadi motor penggerak dalam penerapan inovasi rendah karbon dan efisiensi energi berbasis riset dan teknologi,” ujar Handoko.

Ia menjelaskan, BRIN melalui berbagai pusat riset terus mengembangkan teknologi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk mendukung kebijakan berbasis sains, termasuk bagi sektor swasta.

“Kami membuka ruang kolaborasi riset dengan perusahaan untuk menguji dan mengimplementasikan teknologi rendah karbon, mulai dari efisiensi energi hingga carbon capture agar transisi menuju net-zero emission dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal dan Interim Executive Director IGCN, Andi P. Rahim, menekankan bahwa pencapaian tujuan net-zero global maupun nasional memerlukan komitmen perusahaan di semua sektor untuk menyelaraskan strategi iklim dengan standar yang kredibel.

Berbagai kerangka kerja dan standar internasional seperti SBTi Corporate Net-Zero Standard, GHG Protocol, dan pedoman sektoral lainnya, menjadi panduan dalam menetapkan dan memvalidasi target iklim sesuai Perjanjian Paris.

“Bagi Indonesia yang telah berkomitmen mencapai net-zero pada 2060 atau lebih awal, dunia bisnis memiliki peran krusial dalam mempercepat dekarbonisasi. Namun, banyak perusahaan masih menghadapi tantangan dalam memahami berbagai standar net-zero serta langkah-langkah praktis untuk menyelaraskan strategi iklim korporasi dengan kebijakan nasional,” ungkap Andi.

Menurutnya, melalui pertemuan ini, IGCN bersama SBTi berupaya memberikan kejelasan mengenai standar net-zero dan memfasilitasi pertukaran pengalaman antar pelaku usaha dalam penerapan di berbagai sektor.

“Kegiatan ini memperkenalkan dasar-dasar SBTi serta keselarasan dengan standar net-zero internasional lainnya, sekaligus menjadi forum dialog lintas sektor mengenai peluang dan tantangan dalam mengadopsi target iklim berbasis sains,” ujar Andi.

Melalui forum ini, peserta diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penerapan target iklim berbasis sains serta memperkuat kemitraan antara sektor publik dan swasta dalam upaya bersama mencapai ekonomi hijau dan berketahanan iklim.

[rusdi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *