MAJALAHCEO.co.id, Jakarta – Bulan Ramadhan bagi Wakil Ketua II DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, H. Syarifudin Hafid, bukan sekedar ritual tahunan. Ia memaknainya sebagai ruang perenungan, ruang rahmat dan ladang pengabdian yang tak pernah selesai.
Ramadhan adalah bulan yang dipenuhi dengan rahmat, keberkahan, dan pengampunan dari Allah swt. Di bulan ini, Allah melipatgandakan pahala, membuka pintu tobat seluas-luasnya, dan memberikan kesempatan bagi setiap hamba-Nya untuk meraih ridha-Nya
“Allah membukakan pintu rahmat dan ampunan seluas-luasnya, memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali kepadaNya dan terus memperbaiki diri menjadi lebih baik dari sebelumnya,” kata Syarifudin Hafid, Senin [2/3/2026] siang.
Syarifudin berujar, puasa mengajarkan bahwa hidup dan kehidupan manusia tidak semata-mata realitas jasmani saja, tetapi ia juga memiliki dimensi spiritual yang memberi makna.
Melalui puasa, kata dia, manusia dibebaskan dari kungkungan materi untuk memberi ruang kepada hati dan akal budi agar mampu menangkap kedalaman spiritual dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar. Kesadaran ini menumbuhkan sikap hidup yang lebih arif dan bertanggung jawab.
“Puasa merupakan proses penyadaran agar manusia tidak memandang kehidupan hanya dari sudut lahiriah, tetapi juga mengolah dimensi batin. Dimensi batin inilah yang melahirkan rasa hidup yang lebih utuh, penuh keberkahan, dan diliputi rahmat Ilahi,” ungkapnya.
Momentum Peningkatan Kinerja
Sebagai seorang pejabat, Ramadhan menjadi momentum peningkatan kinerja dan produktivitas melalui kedisiplinan, manajemen waktu, dan ketahanan mental.
Menurutnya, fokus meningkat karena pengendalian hawa nafsu, sementara pola sahur yang bernutrisi dan istirahat cukup menjaga energi dan konsentrasi tetap tinggi untuk hasil kerja maksimal.
“ Jadikan puasa sebagai sarana peningkatan disiplin, integritas, dan etos kerja, bukan sekadar menahan lapar,” ujarnya.
Puasa, kata politisi Partai Demokrat ini, tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter, pengendalian diri, dan peningkatan kualitas moral. Dalam konteks dunia kerja, nilai-nilai puasa justru dapat menjadi fondasi yang kuat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kinerja karyawan.
“ Puasa melatih kedisiplinan waktu, mulai dari sahur, berbuka, hingga pengaturan waktu ibadah. Kebiasaan ini berdampak positif pada manajemen waktu di tempat kita bekerja. Terbiasa disiplin selama Ramadhan cenderung lebih terstruktur dalam menyusun prioritas pekerjaan, mematuhi tenggat waktu, dan memaksimalkan jam kerja secara efektif,” pungkasnya.
[jgd/red]










